Author : Olivia Resty Amallia
Tian sukses membawa ku pergi, tapi aku belum tau ia akan membawaku kemana. Diisepanjang perjalanan aku tiada henti-hentinya bertanya. Aku tau tingkah ku ini dapat mengganggu konsentrasinya dalam menyetir.
“Sebenarnya kita mau kemana sih?” tanya ku pada Tian yang sibuk menyetir.
“Nanti juga lo bakal tau yang pasti lo nyiapin diri lo baik-baik.” jawabnya santai sambil terus mengemudikan mobilnya.
“Maksud lo?” Tian hanya diam saja aku pun ikutan diam. Aku masih menebak-nebak apa yang sedang direncanakan Tian. Ah sudah lah ikuti saja maunya Tian asalkan ia tidak kurang ajar. Dasar cowok rese.
Akhirnya Tian memberhentikan mobilnya di suatu café. Ia langsung turun dari mobil dan membukakan pintu untukku. “Pokonya lo jangan kaget dan lo harus siapin mental buat jelasin semuanya.” ucapnya meyakinkan.
“Maksud lo apasih? Gak ngerti gue? apanya yang harus dijelasin?” Aku mulai bingung dengan semua tingkah lakunya Tian. Aku dan Tian pun memasuki café tersebut dan Tian mengajak ku ke sebelah pojok kiri kafe tersebut. Betapa kagetnya aku setelah mengetaui kalau Fella dan Andra sedang duduk di bangku tersebut.
“Tian maksud lo apa ngajak gue kesini untuk bertemu mereka?” tanya ku setengah berbisik padanya.
“Elo duduk dulu, gue cuma mau bantuin lo ngelarin masalah lo Ay.” Jawabnya. Akupun duduk disebelah Tian. Sejenak suasana hening tak ada satu pun yang mulai berbicara. Aku pun enggan untuk memulai berbicara satu kata pun.
“Heumm.. maaf bukannya gue mau ikut campur masalah kalian. Tapi gue lakuin ini karna gue cuma mau bantuin kalian supaya gak ada kesalah pahaman.” Tian mulai membuka pembicaraan.
“Maksud lo apa bro ajak gue kesini juga? Apa gue juga ada sangkut pautnya dengan masalah kalian?” tanya Andra. Sepertinya Andra belum menyadari kalau dia sebab utama maslah ini.
“Yaudah biar masalah ini gak berlarut-larut lo ceritain semuanya aja Ayy.” Sambut Fella dengan nada sedikit emosi.
“Iya Ay gue penasaran apa sebenarnya yang terjadi. Kenapa gue ada diantara masalah kalian. Perasaan antara gue, elo, Fella, dan Tian gak ada problem apa-apa.” Andra menimpali.
“Ay, sekarang lo lebih baik jelasin ke mereka supaya mereka ngerti dan hati lo juga plong nantinya.” ujar Tian memberikan suport.
Gue yang tak langsung merasa paling terpojokan mulai mengatur kata-kata dari mana aku harus cerita.
Aku mulai bercerita “Oke gue mulai jelasin semua ke kalian semua. Gue juga bingung mau jelasin awalnya dari mana. Sebelumya gue minta maaf sama lo Ndra karna gue udah bawa lo ke masalah ini. Sekarang pertama kalinya gue jujur sama perasaan gue sendiri. Sebenarnya gue malu buat cerita ini, tapi gue harus serita supaya masalah ini selesai dan Fella bisa maafin gue.” Aku berhenti sejenak dan mengatur nafas. Bagaimanapun ini hal yang sangat sulit untuk aku lakukan. Harus jujur dan cerita tentang perasaanku sebenarnya. Entah apalagi difikiran ku, rasanya aku malu sekali untuk menceritakan. Sesaat ku lanjutkan lagi “Gak tau sejak kapan gue mulai diam-diam sering memperhatikan lo Ndra, gue sering perhatiin senyum lo dan lama-lama gue suka sama senyum itu. Karna gue suka perhatiin lo gue ngerasa ada hal yang beda. Dan gue baru menyadari kalau gue ternyata suka sama elo. Dan maaf Ndra kalau perasaan suka ini gak tau kenapa berubah jadi cinta. Yah gue menyadari kalo gue cinta sama elo Andra.”
“Lo serius Ayy? Ta tapi gue …” Andra menyeringgai. Ekspresinya tercenang kaget mendengar kejujuran ku. Matanya membelalak dan raut mukanya berubah seperti orang kebingungan. Namun langsung ku potong ucapan Andra.
“Gue tau Ndra lo cuma anggap gue gak lebih dari sekedar teman, gue sadar kok gue gak pantas buat lo. Gue juga sadar dengan semua kekurangan gue. Makanya gue gak menunjukkan rasa cinta ini, cuma gue simpan dalam hati. Sampai akhirnya gue tau kalau elo diam-diam perhatiin Fella dan gue bisa ambil kesimpulan kalo lo naksir Fella. Oke, itu sebuah kenyataan yang pahit kalau orang yang gue cinta ternyata malah cinta sama sahabat gue sendiri. Gue juga menyadari kalau Fella diam-dim juga memendam rasa sama lo Ndra. Tapi gue coba buat kuat walau sebenarnya gue ingin cerita. Dan hal yang leih bikin gue tambah hancur saat Fella cerita tentang kedekatan lo sama Fella. Disatu sisi gue ikut bahagia karna sahabat gue bahagia. Karna sebentar lagi kalian akan jadian. Tapi gak bisa gue pungkirin gue sakit mendengar cerita lo Ndra. Ketika lo berniat nembak Fella. Kenapa lo harus cerita itu sama gue Ndra. Gue tau kok gue gak seharusnya menyalahkan lo karna lo gak tau tentang perasaan gue. ini semua karna kebodohan gue Ndra. Gue sudah bersikeras buat buang perasaan cinta ini tapi itu malah buat gue jadi tambah sakit.” Tidak terasa pelupuk mataku basah, aku baru sadar aku menangis. Ucapan yang ku lontarkan dari bibir ku begitu saja keluar. Dada ku sedikit lega namun ada rasa hina setelah ku keluarkan isi hati ku.
Ku lirik Andra yang tidak ada reaksi apa-apa hanya menunduk. Mungkin ia masih belum percaya dengan apa yang aku ucapkan tadi, atau mungkin ia sedang bingung ingin berbicara apa. Entahlah aku tak tau. Sekian menit kami berdiam tidak ada sepatah kata-pun terlontar. Sepertinya kami sedang sibuk dengan fikiran masing-masing. Aku sendiri bingung apalagi yang harus aku katakan. Aku menatap Fella, hanya pandangan datar yang kulihat. Mungkin ia kaget atau shock mendengar cerita ku tadi.
“Gue gak tau apa yang harus gue katakan. Jujur gue kaget mendengar cerita lo tadi. Gue gak percaya kalau lo selama ini ada rasa sama gue. Gue juga minta maaf karna tanpa sepengetahuan gue, gue sudah buat lo sakit hati.” ucap Andra pelan sambil mengatur nafas.
“Gak Ndra, elo gak usah minta maaf karna sepenuhnya itu salah gue, Seharusnya gue yang minta maaf sama lo.” Aku menghela nafas menatap Fella yang sedari tadi diam. “Fell, gue juga minta maaf sam elo, mungkin lo gak akan maafin gue karna gue sudah bohong sama lo. Dan gue sudah menjadi sahabat yang paling munafik. Tapi gue gak bermaksud begitu. Gue cuma belum berani mengatakan perasaan gue sejujurnya dan lebih lagi setelah gue sadar kalau kalian itu sebenarnya saling suka. Gue lebih pilih mundur dan memendam perasaan ini sendiri. Gue sudah berusaha coba hilangin perasaan ini. Tapi perasaan ini makin kuat. Gue gak mau itu lebih nyakitin elo Fel. Karna gue tau elo cinta sama Andra. Please maafin gue, gue sayang sama elo. Gue gak mau Cuma karna kebodohan gue persahabatan kita hancur. Maafin gue Fell.” Air mata ku berlinang lagi, aku memang sangat cengeng. Setelah ku berhenti bicara Fella langsung bangkit dari kursinya dan memelukku. Air mata ku makin deras begitu juga Fella ku lihat Fella menangis. Aku membalas pelukan Fella yang kini tangisannya berisak isak.
“Ayya sekarang gue ngerti, dan semuannya bukan salah elo Ay, gue malah yang merasa paling bodoh. Elo sahabat gue yang paling baik, demi kebahagiaan gue elo rela memendam rasa sakit ini. Mungkin jika gue diposisi elo gue gak akan setegar ini. Gue sayang sama elo, elo itu bukan Cuma sekedar sahabat. Tapi elo itu saudara gu. Disaat sifat kanankan gue muncul, elo ada sebagai sosok kakak. Saat gue sedang egois elo ada dan menegur gue layaknya ibu. Dan disaat gue sedang rapuh bahkan jatuh elo ada sebagai sahabat. Selama ini gue gak sadar gue punya sahabat sebaik dan setulus elo Ayy. Gue sayang sama elo Ayy. Elo sahabat terbaik gue sekarang dan selamanya.” ucap Fella yang masih dipelukku air matanya jatuh membasahi bahu ku. Kini aku lega karna Fella tlah memaafkan ku dan masih menganggap ku sahabatnya. Rasa sesak didadaku kini hilang dan sekarang yang kurasakan kedamaian.
“Sekarang semuanya sudah clear, sudah gak ada lagi kesalah pahaman. Ayya sudah cerita semuanya apa yang terjadi dan apa yang ia rasakan. Fella juga sudah mengerti dan memahami kenapa Ayya selama ini membohongi perasaannya. Sekarang gue harap hubungan kalian membaik dan mulai sekarang kalian jangan musuhan lagi. Gue tau sebenarnya kalian itu gak bisa jauhkan. Sebesar apapun kesalahan sahabat kita, kita harus bisa memaafkannya. Mungkin sahabat kita melakukan itu demi untuk kita. Tapi kita yang gak pernah sadar karna dibutakan emosi. Sama seperti sakarang ini yang terjadi, semoga masalah ini kita jadikan pelajaran untuk kita semua. Karna gak ada persahabatan yang abadi kalau bukan kita yang berusaha mempertahankannya.” Tian berceloteh panjang lebar. Aku baru tau kalau ternyata Tian jago sekali bicara, gayanya seperti guru besar yang sedang menasehati muridnya. Aku tersenyum dan mencerna perkataan Tian. Untung saja ada Tian jadi masalah ini gak berlarut-larut. Aku tidak atau bagaimana lagi membalas kebaikan Tian.
Ketika Tian sedang menasihati kami, ku lirik Fella dan Andra diam-diam. Ekspresi mereka sama seperti ku hanya menunduk dan menyimpan senyum karna geli mendengar ucapan Tian yang sok bijak.
“Mantap bro ada sedikit kemajuan nih. Sekarang elo udah pintar ceramah. Nanti kalau gue punya masalah tinggal ge calling elo yah.” ucap Andra setelah Tian selesai bicara. Sekarang suasana tidak setegang tadi Andra dan Tian pun saling tertawa.
“Tapi tunggu bro, kalau mau konsultasi sama gue. Sekarang gue kenai harga, semenit 10.000. Kan sekarang sudah gak ada yang gratis lagi bro.” Tian membalas candaan Andra dan kami pun tertawa bersama.
“Ah elo, giliran Ayya elo kasih gratis nah gue masa bayar gak adil bro. Gue kan sahabat sehidup semati lo.” Andra menoyor lengan Tian sambil cengengesan.
“Itu beda bro, kalo buat Ayya special gratis.” Sambut Tian diselingi tawaan. Tapi aku sedikit terkejut dengan maksud kata “SPECIAL” itu. Apa mungkin Tian menganggap aku special. Ah sudahlah aku gak mau mengharap banyak.
“Wah special maksudnya apa tuh?” Fella mulai menyerang Tian. Tian terlihat gugup dan salah tingkah. Aku pun sama. Apalagi ketika Fella melirik ku dan tersenyum menggoda ku. Jantungku berdegup tapi sebisa mungkin aku menetralkan keadaan.
“Apa sih Fell, mungkin gue dispecial-in sama Tian karna gue baik dan manis.” Aku membalasnya sambil tertawa. Tapi kulihat Tian jadi tambah salah tingkah dengan ucapan ku. Aku yang baru menyadari salah membuat lelucuan seketika kembali terdiam. Andra dan Fella saling berpandangan dan bergantian melirik ku dan Tian sambil melempar senyum. Aku tau apa yang ada difikiran mereka. Tian semakin salah tingkah bahkan keringat dinginnya mulai menetes. Andra dan Fella semakin semangat menggoda Tian. Aku cuma tertawa kecil padahal aku sedang mengontrol diriku supaya tidak terlihat gugup.
‘Oh yah kapan nih kalian jadian?” seru Tian kepada Fella dan Andra dengan senyum sumringah. Mereka jadi mati kutu, pertanyaan Tian sukses membuat mereka berhenti mengecenginya. Giliran aku dan Tian yang mengodanya mereka.
“Iyah benar tuh kalian jadia saja, tenang kok Fel gue restuin kalian berdua.” Aku tertawa cekikikan karna geli melihat wajah Fella dan Andra.
“Tenang saja kok, sekarang pun malah detik ini kita bakal jadian yagak?” Andra mulai berani membalas bahkan sambil menepuk bahu Fella yang tersipu malu.
“Maksudnya?” Fella pura-pura polos.
“Maksudnya kita jadian Fell. Kamu pasti maukan jadi pacarku?” Andra meraih tangan Fella dan mereka saling berpandangan. Aku tersenyum melihat ulah mereka, syukurlah rasa sakit ini menghilang. Tapi aku bingung kenapa aku tidak merasakan sadih atau sakit melihat Andra menembak Fella. Mungkin rasa itu sudah lenyap dimakan rasa kedamaian yang aku rasakan sekarang.
“Andra masa jadiannya gak romantis banget sih.” Cibir Fella kepada Andra.
“Romantis-romantisannya nanti saja, tunggu gak ada mereka.” Andra melirik kepada kami sambil mengedipkan matanya.
“Ah sialan lo, yasudah kita pergi aja yuk.” Tian sedikit berdiri dan meraih tangan ku.
“Bercanda bro, jangan pergi dulu kan belum gue traktir kalian.” Andra tertawa kesenangan menahan Tian dan aku untuk pergi. Kami pun duduk kembali dan tertawa. Aku dan Andra padahal hanya bercanda saja.
Kami berempat pun tertawa lepas. Akhirnya Andra dan sahabat ku Fella resmi jadian. Suatu kebahagiaan buat diri ku melihat sahabat ku tlah melepas masa jomblonya. Aku doakan semoga hubungan mereka bahagia. Tinggal aku dan Tian yang masih penuh misteri. Seperti aku katakan tadi aku tidak mau barharap lagi takut akhirnya mengecewakan biar waktu saja yang menjawab bagaimana kelanjutan aku dan Tian. Aku benar-benar berterima kasih kepada Tian berkat Tian semuanya dapat terselesaikan. Aku rada tak percaya dibalik sikap Tian yang kepo, sok tau, jahil ternyata ia lebih dewasa dan memahami hidup. Bagi ku sekarang yang terpenting aku dan Fella kembali bersahabat. Sekarang aku baru menyadari kalau perasaan cinta ku kepada Andra hanyalah sementara. Benar seperti kata mama, saat SMA ini adalah saat-saatnya perasaan menjadi labil. Jadi mulai sekarang aku jalani masa remaja ku dengan enjoy dan have fun. Hari ini aku menemukan sebuah pelajaran yang berharga tentang arti PERSAHABATAN, PENGORBANAN, KETULUSAN, dan KEJUJURAN.
TAMAT
*Maaf seribu jika ada penulisan dan tanda baca yang salah, juga maaf jika ending-nya tidak cukup menarik. Karna aku paling susah buat ending sebuah cerita. Dan maaf juga kalau FEEL-nya kurang dapat. Aku masih belajar dan amatiran. Jadi mohon SARAN, KRITIK, KOMENTAR, dan juga LIKE. Karna itu dapat membantu saya mengoreksi diri. Terima kasih sudah membaca cerbung ku sampai last bab. Semoga berkesan :)
NO EDIT NO COPY NO PASTE
~Olive (own) 170412, 11:43 PM





Tidak ada komentar:
Posting Komentar