Rabu, 08 Mei 2013

Cerbung : Love Story No Perfect #Bab 4


Author : Olivia Resty Amallia


“Ayya, Ayya Ayya.” seseorang memangilku sambil menggoncang-goncangkan tubuh ku. Aku pun terbangun kesal karna pesta tidur ku diganggu. Aku membuka mata ku dengan separu nyawa yang belum terkumpul.
“Fell, fella.” ucap ku seraya mengucak mata untuk memastikan kalau itu benar Fella.
“Iya ini gue Ayy.” ucap Fella
“Nyebelin lo ganggu tidur gue aja.”
“Lagian lo tidur melulu. Sakit apa sih lo Ayy.”
“Gak tau ni badan gue meriang.”
“Meriang MerindukanKasihSayang yah Ayy.” godanya sambil cengengesan
“Wooo.” Aku melempar bantal kewajahnya.
“Sakit tau.” omelnya manyun. “Oya Ayy gue mau cerita nih?” tambah Fella
“Cerita apa? Kangen lo yah sama gue?” ledek ku
“Uuuhh PD, itu lo tadi si Andra masa pagi-pagi jemput gue.” ujar Fella senyam senyum.
“Berarti lo berangkat sekolah bareng dong.” Perkiraan aku benar kalau Fella pasti bercerita tentang kedekatannya dengan Andra. Rasa sakit menyelinap dihati ku. Ya ampun aku harus jaga emosi, jangan sampai aku menangis didepan Fella. “Aku harus tegar, stay cooll Ayya.” Batinku
“Iya Ayy, dan lo tau gak masa tadi pulang sekolah dia ngajak gue jalan Ayy. Tapi gue gak mau.”
“Kenapa gak mau Fell?” tanyaku penasaran
“Kan gue mau jenguk sahabat gue yang satu ini.” jawabnya dengan senyum sumringah. Fella mencubit pelan kedua pipi ku.
“Ohh so sweet-nya.” Aku dan Fella pun berpelukan seperti Teletubies. Aku sahabat macam apa, aku ini bodoh. Fella itu sahabat terbaik dia rela menolak ajakan Andra demi untuk jenguk aku. Padahal aku yakin Fella senang banget waktu diajak Andra jalan. Tapi Fella lebih pilih buat jenguk aku sahabatnya. Fella maafkan aku.
“Oya Fell lo mau minum apa?” tawarku
“Ahh gak usah Ayy lokan lagi sakit.” Fella menarik lenganku menyeringgai.
“Masa tamu gak aku buatin minum sih. Yaudah aku buatin minum dulu yah sebentar.” Aku tetap bangkit bergegas ke dapur untuk membuatkan minum untuk Fella.

Fella POV
“Ayya Ayya dibilang gak usah tetap saja kekeh buat bikinin gue minum.” ucap gue.

Teringat dulu dikala SMP aku sering menghabiskan waktu dirumah Ayya bahkan menginap. Aku pun sudah menganggap Ayya saudara ku dan menganggap mamanya ibuku. Kami bersahabat dari SD dan sampai sekarang, walau rumah aku sekarang sudah pindah dan lumayan jauh dari rumah Ayya. Tapi itu tidak jadi penghalang kedekatan ku dengan Ayya. Aku nyaman bersahabat dengannya, setiap cerita dihidupku slalu ku bagi dengan Ayya. Bahkan Ayya menjadi tempat curhat ku, mulai dari masalah sekolah, keluarga sampai cinta aku slalu curhat dengan Ayya. Disaat aku tertawa dan menangis pun Ayya slalu ada. Mungkin Ayya sudah mengenal betul aku samapi kerak-keraknya.

Aku merebahkan tubuhku dikasur empuknya Ayya sambil memainkan handphone ku. Aku merasakan sesuatu yang mengganjal dipunggung ku. Aku pun mengambil benda tersebut yang tlah membuat ku tidak nyaman. “Oh ternyata buku diary Ayya.” ucap ku sambil memegang buku diary berwarna biru itu.
“Ayya lama sekali yah buat minumnya, uuuhhh.” gerutuku sendiri memainkan handphone.

Aku tergoda untuk melihat kembali diary Ayya tersebut. Sedikit ada niat untuk membukanya tapi rasanya tidak sopan membuka diary orang. Tapi sudah akhir-akhir ini Ayya tidak pernah cerita tentang cowok yang ditaksirnya. Padahal setiap cowok yang aku taksir pasti aku ceritakan padanya. Gak adil, aku juga harus tau siapa cowok yang dia taksir sekarang. Akupun memberanikan diri untuk membuka perlahan isi diary tersebut. “Lho kok ada foto Andra?” Aku penasaran kenapa di halaman depan diary Ayya terdapat foto Andra. Aku semakin bersemangat membaca isi diary Ayya. Tanpa sengaja aku membuka halaman pertengahan diary tersebut dan isinya.

Dear Diary 

Seharunya aku bahagia dan tersenyum karna  sahabatku Fella sebantar lagi akan jadian sama Andra cowok yang ia suka. Dan seharusnya aku juga turut bahagia orang yang aku sayang telah menemukan seseorang yang pantas dia cintai, bukan aku….

Tapi hati ini gak bisa bohong kalau aku sakit mendengar rancana Andra nembak Fella dari Andra-nya sendiri. Apalagi ditambah dengan cerita-cerita bahagia Fella. Itu buat aku tambah hancur. Entah lah kini aku menjadi ratu munafik. . Tapi aku bisa apa? Selain berpura-pura senyum dan senang didepan mereka. Aku cape dengan  semua ini. Aku cemburu? Iya aku cemburu. Aku sakit? Iya aku sangat sakit. Tapi aku gak mungkin bicara dengan mereka.
Aku ini bukan siapa-siapa Andra, dan aku ini gak pantas buat Andra. Aku ini bodoh.

Cinta iya cinta ku kepada Andra yang membuat aku sakit. Cinta tak terbalaskan hanya bisa berharap dan terus berharap. Tapi gak tau apa harapan itu berakhir bahagia atau menyakitkan seperti ini.
Sahabat iya sahabat sebuah ikatan yang disuci dan berarti. Sahabat itu seharusnya turut bahagia kalau sahabat kita juga bahagia. Bukan seperti aku yang terus menangis. Aku memang sahabat yang jahat. Aku merasa tidak pantas untuk dijadikan sahabat

 Cinta
Aku tertarik
Karna awalnya menarik
Namun kini hatiku berbisik
Karna luka tlah terusik

Cinta
Ku tergoda tuk menyentuhnya
Walau takut tergores luka
Perih menusuk sampai dalam

Kini kusadar
Aku salah
Memendam rasa
Aku pasrah
Walau tak terbalas
Dalam helai nafas
Aku tak berdaya

Aku shock membaca selembar isi diary ini. Perasaan aku campur aduk, aku-pun diam mematung buku diary yang ada ditangan ku tadi terlepas dan jatuh kelantai. Aku gak tau apa yang harus aku lakukan. Aku gak percaya kalau ternyata Ayya memendam perasaan kepada Andra sudah lama. Kenapa aku gak sadar itu, aku sahabat macam apa. Kenapa Ayya gak pernah cerita sama aku? Kenapa dia sembunyikan dari aku sahabatnya? Kenapa aku dan Ayya harus menyukai orang yang sama? Kenapa Ayya harus bohong?. Tanpa sadar aku meneteskan air mata dan dada ku terasa sesak. Banyak pertanyaan yang muncul dibenakku.

Ayya POV
“Fella ini gue udah buatin orange jus. Sorry lama tadi gue ke toilet dulu.” ujar ku sambil berjalan membawa nampan berisi segelas orange jus segar. Aku menghampiri Fella yang sedari tadi diam saja tidak memperdulikan kedatanganku. Betapa kagetnya ketika aku lihat Fella menagis.
“Fell lo kenapa?” tanyaku penasaran. Fella tetap diam, malah isak tangisnya mulai terdengar.
“Fell, lo ngomong dong kenapa lo nangis.” Aku semakin bingung dengan sikap Fella tiba-tiba menangis. Pasti telah ada sesuatu yang terjadi. Tapi apa. Tak sengaja aku melihat diary ku tergeletak dilantai. Jangan-jangan Fella telah membaca diary ku. Oh My God?

“Fell, gue bisa jelasin semuanya? Gak seperti yang lo bayangin kok.” ujarku menenangkan
“Gue gak nyangka sahabat gue tega bohongin gue. Kenapa lo gak pernah cerita kalau lo itu suka sama Andra? Kenapa gue harus tau-nya dengan cara kayak gini?” Fella mulai berbicara ditengah isak tangisnya. Aku bingung apa yang harus aku katakan. Memang ini semua salah ku. Aku hanya diam tak bisa membela diri.
“Lo masih anggap gue sahabat lo bukan ?”
“Ya yah Lo sahabat gue Fell, lo itu sahabat gue dari SD. Kok lo ngomong kayak gitu sih Fell.” Ucap ku gemetar
“Kalo lo masih anggap gue sahabat. Kenapa lo sembunyiin ini dari gue. Bukankah sahabat itu saling berbagi cerita, sahabat itu tanpa kebohongan, dan sahabat itu saling menguatkan.” Kini suara Fella mulai terdengar jelas dan lirih.
“Gu gu gue gak maksud kayak gitu Fell. Gue sayang sama lo. Gue …..” belum selesai ku berucap. Fella bangkit mengambil tas-nya dan bergegas pergi.
“Fell tunggu gue ngomong sebentar.” Aku menarik tangan Fella melarangnya meninggalkan kamar ku.
“Apalagi yang mau lo jelasin. Lo itu MUNAFIK, gue benci sama orang munafik. Gue gak percaya sahabat gue ini munafik, dan mulai sekarang gue gak mau sahabatan sama cewek semunafik kayak lo.” bentak Fella dan cepet berlalu pergi.

Lo itu MUNAFIK, gue benci sama orang munafik. Gue gak percaya sahabat gue ini munafik, dan mulai sejarang gue gak mau sahabatan sama cewek semunafik lo. Kata-kata Fella terngiang-ngiang ditelinga gue. Membuat telinga dan hati gue sakit,sekarang semuanya benar-benar hacur. Aku sudah gak tau lagi apa yang harus aku perbuat. Sekarang Fella sudah tau semuanya dan Fella juga membenci ku. Besok mungkin Andra uga akan tau, dan betapa malunya aku. Ya Tuhan kenapa harus berakhir seperti ini. Dada ku benar-benar sesak rasanya aku ingin teriak. Aku ingin hilang ingatan, aku ingin pergi. 

~BERSAMBUNG~

Tidak ada komentar:

Olivia Resty Amallia. Diberdayakan oleh Blogger.