Author : Olivia Resty Amallia
Lo itu MUNAFIK, gue benci sama orang munafik. Gue gak percaya sahabat gue ini munafik, dan mulai sejarang gue gak mau sahabatan sama cewek semunafik lo. Kata-kata Fella terngiang-ngiang ditelinga gue. Membuat telinga dan hati gue sakit,sekarang semuanya benar-benar hacur. Aku sudah gak tau lagi apa yang harus aku perbuat. Sekarang Fella sudah tau semuanya dan Fella juga membenci ku. Besok mungkin Andra uga akan tau, dan betapa malunya aku. Ya Tuhan kenapa harus berakhir seperti ini. Dada ku benar-benar sesak rasanya aku ingin teriak. Aku ingin hilang ingatan, aku ingin pergi.
“Ayya kamu kenapa sayang kok menangis?” Mama masuk ke kamar ku dengan wajah khawatir. Namun aku masih diam tapi air mataku terus mengalir. Mama langsung memeluk dan menenagkan ku “Sayang sebenarnya ada apa, kok tadi Fella pergi sambil menangis dan kamu juga menangis?” tanya Mama lagi. Akhirnya aku menceritakan semua kepada Mama. Aku bercerita dari awal aku memendam rasa kepada Andra, rasa sakit ku dengan kedekatan Fella dengan Andra, sampai akhirnya Fella mengetahui sendiri dari buku diary ku. Semua aku ceritakan dalam pelukan mama. Setelah aku bercerita kepada mama sekarang perasaan ku cukup lega seperti sebagian beban ku hilang.
“Sekarang lebih baik kamu minta maaf kepada Fella dan Andra. Aku cerita semuanya kepada mereka seperti kamu cerita kepada mama. Mama yakin pasti mereka berdua mengerti dan mau memaafkan kamu sayang.” ucap mama sambil mengusap rambutku lembut.
“Tapi ma aku malu, aku belum siap cerita kepada Andra dan mana mungkin Fella mau mendengarkan ku.” Aku melepas pelukan mama dan mengerutkan dahi. Rasanya aku gak ada keberaniaan buat bicara jujur kepada mereka.
“Sayang, kamu harus cerita semua ini kepada mereka, kamu gak mau kan kehilangan sahabat kamu kan, pasti Fella mau dengarkan penjelasan kamu. Kamu harus beranikan diri sayang supaya semuanya clear. Oke anak mama yang manis ini pasti bisa?” ujar mama tersenyum sambil menghapus air mata ku. Aku pun membalasnya dengan tersenyum dan langsung mencium mama. Hanya mama yang bisa mengerti dan meredahkan kegundahan hati ku. Kata-kata lembut dan kasih sayangnya dapat menyejukkan jiwa ku. Sungguh beruntung aku mempunyai mama selembut mama. Mulai sekarang aku menata keberanian untuk menyelesaikan masalah ku sendiri. Aku gak boleh jadi seorang pengecut, aku harus dewasa menyelesaikannya. Masalah gak akan kelar kalau bukan kita sendiri yang menyelesaikannya. Mungkin dari masalah ini aku bisa belajar menjadi dewasa dan belajar untuk tidak membohongi perasaan juga diri sendiri. Seperti dunia, Dunia itu nggak kecil juga nggak luas. Tergantung keadaan yang ada pada diri kita yang sedang terjadi.
……………………………….*……………………………………………………….
Pagi ini aku bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Aku sudah mempersiapkan diri untuk menerima resiko apa yang akan terjadi. Sesampainya disekolah ternyata kelas masih sepi hanya aku dan Gilang sang ketua kelas yang sudah datang. Mungkin sangking masih paginya aku berangkat. Aku duduk di kursi ku dan mulai menyumpal telingaku dengan headset. Aku masih berfikir apa yang akan terjadi nanti setelah Fella datang. Aku mendengarkan musik sambil mengetuk-ngetuk meja.
KRIIIINGGG KRIIIIINGGG KRIIIIIINGGG (bunyi bell)……
Tidak terasa bell masuk sekolah sudah berbunyi, namun Fella belum datang juga. Aku mulai khawatir kenapa Fella tidak masuk sekolah. Secara tidak sengaja aku menoleh kebelakang ternyata Fella duduk bersama Reni. Oh begitu marahkah Fella sampai tidak mau lagi duduk sebangku dengan ku. Biasanya sengambek apapun Fella, ia tetap duduk disamping ku. Tapi sekarang dia menghidar dari ku bahkan sama sekali tidak menyapa ku. Hati ku sangat sakit dan hancur diperlakukan seperti itu oleh sahabat ku sendiri. Apa sudah tidak ada maaf buat aku lagi. Hari ini sampai jam pelajaran terakhir tak ada satu pun pelajaran yang nyangkut di otak ku. Selama jam pelajaran aku benar-benar tidak konsentrasi, fikiran ku kalut. Raga ku ada dikelas ini tapi nyawaku tidak disini. Aku pun tidak berani untuk menegur Fella selama dikelas aku hanya diam mematung. Untung saja tidak ada ulangan hari ini.
Sampai pada waktu pulang sekolah aku belum bicara sepatah katapun kepada Fella. Bahkan say haypun tak ada diantara kami. Rasanya hampah hari ini aku gak ini terjadi lagi besok, aku gak mau kehilangan sahabat ku. Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan??
“Ayy, kok belum pulang kelas sudah sepi gini emang lo gak takut.?” Tiba-tiba Tian sudah ada disamping meja ku. Bukankah Tian tadi sudah pergi meninggalkan kelas tapi kenapa di balik kekelas lagi.
“Gue masih betah disini, elo bukannya udah pulang kenapa balik lagi?” ucap ku datar.
“Ooh sepertinya lo ada masalah sama Fella, apa Fella udah tau?” tanya Tian
“Bukan urusan lo. Pergi lo dari sini.” Emosi ku meledak dan seketika aku membentak Tian. Tian mundur satu langkah mungkin ia kaget mendengan bentakan ku.
“Oke-oke tapi bukan maksud gue untuk bikin lo emosi Ay, gue cuma mau bantu lo aja Ay.” ujar Tian mencoba menenangkan ku.
“Tau apa lo, gak usah lo ikut campur masalah gue. Gue bisa selesain ini sendiri.” ujar ku geram. Aku mengambil tas ku lalu pergi meninggalkan Tian sendiri dikelas.
………………………………………………….*………………………………………….......
*Dirumah*
Aku merebahkan tubuhku dikasur dan aku menangis lagi. Sudah tak terhitung lagi berapa kali aku menangis dibulan ini. Aku membuka laci nakas ku dan mengambil album foto berwarna orange. Didalam album ini semua gambar aku dan Fella tersimpan sejak kami SD. Lembar demi lembar ku buka sungguh indah persahabatan kami. Persahabatan yang menurut ku tanpa cacat. Walaupun dulu banyak sekali salah paham yang terjadi tapi kami masih bisa mempertahankan persahabatan ini. Kini aku benar-benar gak rela persahabatan aku dan Fella renggang Cuma karna cowok. Aku gak sepenuhnya menyalakan Andra, toh Andra tidak tau apa-apa. Yang pantas disalahkan hanya aku, yah aku yang buat semua ini jadi kacau. Fella maafkan aku. Mata ku memerah dan bengkak karna seharian air mata ku terkuras habis. Aku pun lelah dan mulai tertidur sambil memeluk album kenangan ini.
Tok tok tok tok (ketukan pintu)
“Ayya buka sayang ada teman kamu kesini.” Ketukan pintu ditambah suara mama membangunkan ku dari istirahat. Aku mengucak mata ku dan bangun membukakkan pintu kamar.
“Siapa sih mah yang datang?” tanya ku penasaran.
“Itu lho nak Tian sudah nunggu dibawah, cepat sana temui.”
“Tian, ngapain Tian kesini mah?.” Aku mengaruk-garuki rambutku yang tidak gatal. Ada apa lagi cowok rese ini datang kerumah ku.
“Yah mama tidak tau Ayy, tapi kayaknya penting yasudah kamu temui dulu. Mama mau membuatkan minuman buat Tian.” ucap mama dan berlalu kedapur.
Aku segera menemui Tian penasaran apa yang membuatnya datang kemari. “Ada apa sih lo datang kesini.” Tanyaku pada Tian
“Gue mau ngajak lo pergi.” sahut Tian menggenggam tangan ku.
“Males ah gue.”aku melepas paksa genggamannya.
“Ini penting, pokonya lo harus ikut?” Tian memaksa ku.
Aku menghela napas “Penting apanya sih ian?”
“Nanti juga lo bakal tau, lo ikut ya?” Tian kini mulai memasang wajah memelas supaya aku luluh untuk ikut bersamanya. Tapi aku tetap saja menolak.
“Kalo gue gak mau ikut gimana?” jawabku ketus membuang pandangan.
“Ayolah please kali lo harus ikut, gue gak pernahkan minta apa-apa dari lo. Sekarang gue mohon lo ikut yah.” ujar Tian memohon.
“Oke oke gue ikut, tapi gue ganti baju dulu yah.” Aku menyetujui ajakan Tian tapi aku masih gak tau mau dibawa kemana aku oleh Tian. Tapi yang aku atau pasti gak mungkin Tian mau menculik ku.
“Gak usah ganti baju, kita udah gak ada waktu banyak.” Tian langsung menarik tangan ku mengajak ku pergi.
“Tunggu dulu, gue izin sama nyokap gue dulu yah.” Aku melepaskan tangan ku dari genggamannya dan menuju dapur menemui mama. “Mah aku pergi dulu yah sebentar sama Tian.” ucap ku sambil mencium pipi mama dan ngeloyor pergi.
~BERSAMBUNG~





Tidak ada komentar:
Posting Komentar