Rabu, 08 Mei 2013

Cerbung : Love Story No Perfect # Bab 2


Author : Olivia Resty Amallia


Ternyata benar aku gak kuat menahan air mata ku ini. Aku belari ke lantai empat dan duduk di pojokkan samping ruang Labotarium Kimia. Dilantai empat ini memang cukup sepi karna hanya beberapa ruang labotarium dan ruang gudang. Namun tak ada rasa takut sedikit pun karna disinilah tempatnya aku menyendiri dan menenangkan batin ku. Air mata ku deras membasahi pipi ku dan aku menangis sejadi-jadinya disitu.

"Gue gak pantas nangis kayak gini karna gue gak ada hak apa-apa sama hubungan kalian gue juga gak punya hak untuk jealous sama Andra. Ini konsekwensi yang harus gue jalanin karena gue sendiri yang nyimpan rasa cinta diam-diam. Bodoh...gue...bodoh!" ucap ku lirih bahkan terdengar serak.
"Reyya, loe ngapain duduk disitu?" seorang cowok mengagetkan ku. Sosoknya tepat dibelakangku. Buru-buru ku hapus air mata ku dengan rok abu-abu ku.
"Lah loe sendiri ngapain disini." tanya ku kepada cowok itu.
"Ni orang ditanya kok balik tanya.” celetuk cowok itu yang tak lain adalah Tian teman sekelas ku dan teman akrabnya Andra. Ia mengambil posisi tepat sejajar dengan ku.
“Gue tadi disuruh Pak Munsif anterin buku ke perpus. Terus gue ngeliat ada loe disini yaudah gue datangin. Emang loe lagi ngapain? Loe sendrian disini? Mata loe kok merah? Loe habis nangis yah? Pasti loe ada masalah?” celoteh Tian yang menyerang ku dengan bertubi-tubi pertanyaan yang membuat ku kesal.
“Udah kayak polisi loe banyak tanya!” omel ku kepada Tian dengan ekspresi wajah yang jutek dan masam.
“Sorry sorry habis gue bingung ngapain loe disini sendirian. Yaudah jangan cemberut lagi makin asem tuh muka.” ledek Tian menoyor lengan ku.
“Ketek loe tuh yang asem!” aku membalasnya dengan kesal. Malah hampir keluar mata ku.
“Enak ajah ketek gue mah wangi, mau cium loe?” Tian mendekatkan tubuhnya kearah ku. Aku pun mundur selangkah hingga tertabrak tembok dibelakangku. Aku langsung mendorongnya kemudian  menginjak kakinya. “Apa sih gak lucu tau!” Aku memarahinya saking kesalnya dengan ulah konyol Tian.
“Iya iya maaf, habisnya muka loe kusut banget, gue kira kan itu bisa ngehibur loe.” Ujarnya sambil tersenyum dikulum.
“Niat loe sih baik tapi caranya ngeselin” Aku menatap lekat kewajahnya bicara ketus.
“Kan gue udah minta maaf, loe ada masalah yah?” tanya Tian kepada ku. Kini ekspresinya menunjukkan keseriusan.
“Gak, gue gak kenapa-napa.” sahut ku mengelak. Aku membuang muka dari tatapannya untuk menyangkal apa yang terjadi pada diriku.
“Gak mungkin kalo gak ada apa-apa tuh mata kenapa merah pasti habis nangis kan?” Terus saja Tian menanyaiku. Malah kini ia memegang dagu ku pelan dan didekatkan pada wajahnya. Mata kami pun bertemu dan sedetik kita saling tatap.
“Mata gue kelilipan.” Jawab ku asal ceplos. Menghindar dari sorotan matanya yang tajam.
“Kelilipan apa nangis??” Tian masih saja tak berhenti menggodaku ku dengan pertanyaannya yang benar-benar membuat ku jengkel.
“Kenapa sih loe pengen tau ajah. Kalo pun gue ada masalah gak ada urusannya sama loe.” Suara ku mendadak tinggi.
“Yeee, ngambek. Sorry Ayy gue gak maksud ikut campur kok. Udah dong jangan ngambek lagi nanti manisnya hilang loh.” Goda Tian sambil mengedipkan matanya yang lucu.
“Emang gue manis??” aku bertanya pada Tian. Kini aku yang menatap matanya. Sebenarnya aku tidak berani tapi tanpa sadar aku melakukannya.
“Em….emmm udah deh jangan GR.” Tian sepertinya salah tingkah dengan pertanyaan ku. Ia menggaruk-garuk tengkuknya. Ekspresinya terlihat seperti orang bingung, dan sangat lucu. Aku tersenyum kepadanya, Tian Ariesta Putra teman sekelas ku yang jahil dan menyebalkan. Tian mempunyai sesuatu yang berbeda yaitu matanya. Mata yang hitam bulat dan menusuk membuat setiap yang menatap matanya terhipnotis sejenak. Sorot matanya seakan mampu membaca pikiran dan mengartikan apa yang terjadi disekelilingnya. Sikapnya yang ramah dan sangat friendly itu yang mampu membuat hati sebagian cewek disekolah takluk padanya. Namun dari semua cewek yang mendekatinya tidak ada satupun yang ia pilih untuk menjadi pacar. Menurut ku Tian adalah seorang cowok yang sulit untuk jatuh cinta. Kehadirannya disaat ku sedang kalut begini sebenarnya menghidur karna membuat ku sedikit lupa oleh sikap konyolnya. Tapi yang tidak ku suka ia hadir tiba-tiba dan bersikap sok tau. Andai yang saja Tian itu Andra mungkin aku akan bahagia.
“Kita ke kelas yuk?” ajakku pada Tian
“Loe mau masuk kelas jam segini? Bisa-bisa loe dijemur sama Buk Ningsih.”
“Dijemur kenapa??, emang gue ikan asin?” tanya ku.
“Liat jam berapa nih.” ujar Tian sambil menunjukkan jam tanggannya kearah ku yang menunjukan pukul 07: 45.
“Kok cepet banget sih? Jam loe rusak kali, kayaknya gue belom denger bell deh.” Aku masih tak percaya kalo ini sudah jam 07:45.
“Enak ajah jam gue di bilang rusak, jam mahal nih.” sambil memamerkan jam tanggannya. “Emang loe gak denger bell tadi? Waduh harus dikorekkin tuh kuping?” ejeknya pada ku.
“Iya ntar gue korekkin pake linggis.” Sahut ku kesal. “Terus sekarang kita harus gimana? disini aja gitu.” tambah ku lagi.
“Yah gitu, kita nunggu disini sambil jam pelajaran ke dua. Loe tau kan Buk Ningsih tu guru paling Killer, dia gak suka sama muridnya yang datang terlambat bisa-bisa kita berdua dijemur di lapangan.” celotehnya. Tian mengadahkan wajahnya ke wajah ku.
“Huuh malasin deh, disini nunggu berdua sama loe cowok paling nyebelin seantero jagat raya.” Seru ku sambil mencibir kearah Tian.
“Seharusnya loe bersyukur bisa nunggu bareng cowok yang super zuper duper ganteng, keren, cute dan manis kayak gue.” Godanya pada ku sambil menaikkan kerah bajunya dan mengklimiskan rambutnya.
Aku pun tertawa melihat tingkah lakunya yang lucu. Walaupun hadirnya Tian mendadak mengagetkan ku dan membuat ku jengkel dengan pertanyaan-pertanyaannya. Tapi berkat Tian aku bisa tersenyum melupakan masalah ku.

*** skip *** skip *** skip*** skip *** skip *** skip*** skip *** skip *** skip*** skip *** skip *** skip

 Tak terasa bell pelajaran ke dua berbunyi aku dan Tian segera bergegas masuk kelas untuk mengikuti pelajaran. Ini kali pertamanya aku membolos, apalagi membolos dengan ditemani Tian yang gokil sekaligus nyebelin. Di kelas aku bersikap seperti biasa seakan tidak ada masalah yang mengganjal dihati ku. Tapi aku takut Fella tau kalau mata ku merah habis menanggis tadi. Bisa-bisa Fella akan banyak tanya seperti yang tadi dilakukan Tian.
“Ayya tadi loe kemana ajah sih kok baru dateng?” serobot Fella. Padahal aku baru duduk dan masih ngos-ngosan mulai mengatur nafas.
“Tadi gue habis dari toilet biasa panggilan alam (BAB) perut gue tadi serasa melilit sakit banget .” jawabku ngasal. Mungkin ini alasan yang basi tapi gak apalah, semoga saja Fella percaya. Fella ketawa geli mendengar alasan ku. Mungkin buat Fella alasan ku ini lucu karena aku menghabiskan waktu berjam-jam sampai membolos jam pelajaran hanya untuk ke toilet.
“Fell, tadi pelajaran Buk Ningsih ngapain? Terus ada tugas gak? tanya ku mengalihkan topik pembicaraan. Aku mengambil buku ku dan mulai membuka halamannya..
“Iya tadi Buk Ningsih kasih tugas di LKS halaman 13 sampai esai bagian C. Karena banyak yang belom selesai jadi di kumpulkan besok." ujar Fella
“Ooh gitu, yaudah thank’s yah.” ucap ku sambil menandai tugas yang diberikan Buk Ningsih di LKS.

Sudah 15 menit bell jam pelajaran kedua berlalu tetapi Mrs. Aniek guru Bahasa Inggris belum juga datang. “Sepertinya hari ini Mrs. Aniek gak masuk deh. Kalopun telat gak mungkin karena dia termasuk guru yang ontime.” Pikir ku dalam hati
“Perhatian Mrs. Aniek gak masuk dikarenakan sakit, kita dikasih tugas mengerjakan soal latihan di buku paket halaman 29.” Ujar Gilang sang ketua kelas didepan. Seperti biasa kelas ku selalu berisik jika ada guru yang tidak masuk walaupun sudah di beri tugas. Kelasku berubah menjadi pasar sebagian ada yang ngerumpi, bercanda, main handphone, bahkan nyanyi-nyanyi gak jelas.
“Ayya gue mau curhat sama loe? Boleh gak?” Fella menegur ku yang sedang asyik melihat kelakuan teman-teman ku.
“Boleh, emang mau curhat apa?” tanya ku santai.
 “Tentang Andra.” ucap Fella sambil tersenyum semu. Sontak aku pun kaget mendengarnya, ternyata benar Fella juga menyukai Andra. Rasanya hati ku perih teramat sangat.
"Ciiieeeee, bentar lagi ada yang jadian, makan geratis dapat PJ." Aku menggodanya dengan suara keras sambil tertawa tepaksa. Membohongi perasaan ku.
"Ayya jangan kenceng2 ngomongnya malu tau gue." Fella menutup mulut ku dan melirik kanan kiri melihat situasi. Untung saja tidak ada yang mendengar karna kegaduhan kelas. Ku lihat wajah Fella memerah seperti udang rebus.
"Ooupps sorry." kata ku sambil cengar-cengir.
"Gini Ayy, Minggu-mingggu ini si Andra SMS gue melulu, tapi dia SMSnya gak kayak biasanya." ucap Fella setengah berbisik.
"Gak biasanya gimana maksudnya?" Aku mulai penasaran.
"Andra SMSnya agak perhatian gitu Ayy, nanya udah makan belom, udah mandi belom, jangan lupa sholat, gitu-gitu deh. Tadinya gue anggap biasa ajah tapi hampir tiap hari gak pagi, siang, sore, malam Andra SMS gue sok perhatian gitu. Pokoknya beda banget sama waktu disekolah." ujar Fella.
"Biasanya kalo cowok sudah perhatian gitu. Tandanya tu cowok suka sama loe." jawab ku sok tau.
"Emang iya Ayy? ntar gue kePDan lagi." katanya.
"Yah elo nanggapinnya jangan heboh, biasa aja tapi loe terus pantau sampai mana dia perhatian sama elo." Aku menarik nafas dan mengatur mimik wajah ku agar tak terlihat sedih.
"Oke, Than's yah sarannya." Fella tersenyum pada ku.
"Loe suka yah sama Andra?" tanya ku spontan. Setelah mendengar pertanyaan ku wajah Fella sontak merubah terlihat gugup. "Iya sih tapi loe jangan bilang siapa-siapa yah. Gue masih malu." ucap Fella. Fella memang tidak pernah bisa menyimpan setiap apa yang ia rasakan sendiri. Ia slalu menceritakannya padaku dan Fella sangat mempercayaiku.

Jeegeerrr!!!!!! Rasanya hati ku tersambar petir aku masih belum bisa menerima keadaan kalo ternyata sahabat ku juga suka sama cowok yang aku impikan. Tapi Fella itu sahabat terbaik ku aku harus bisa merelakannya. Toh Andra juga mencintai Fella bukan mencinta aku. "Aku harus tegar, gak boleh cengeng. Don't cry Ayya." aku berkata dalam hati.
"Slow wae Fell, gue gak ember kok." jawab ku sambil tersenyum-senyum terus menggodanya.

"BERISIK SEKALI KALIAN. PELAJARAN APA SEKARANG?" Pak Siregar datang mengagetkan kami semua.
"Pelajaran Bahasa Inggris pak, tapi Mrs. Aniek gak masuk jadi kami hanya diberi tugas." jawab Gilang terbata-bata.
"KALIAN SUDAH DIBERI TUGAS TAPI KENAPA MASIH BERISIK. KERJAKAN TUGAS KALIAN AWAS KALO BAPAK MASIH MENDENGAR KELAS INI BERISIK LAGI. BAPAK HUKUM KALIAN!!!" suara Pak Siregar lantang membuat kami sekelas ketakutan. Tubuhnya yang gemuk, kumisnya yang tebal dan suaranya yang berat juga lantang membuat namanya masuk list guru ter-killer. Kelas yang tadinya berisik menjadi sunyi , semua siswa terlihat sedang serius mengerjakan tugas yang telah di berikan. Hanya aku yang masih diam tidak mengerjakan. Pikiranku kalut, hatiku remuk, batinku menangis, ingin rasanya aku berteriak.

*** skip *** skip *** skip*** skip *** skip *** skip*** skip *** skip *** skip*** skip *** skip *** skip 

Bell pulang sekolah pun tiba. Aku bergegas merapikan buku dan tas, ku ingin segera pulang kerumah. Hari ini gak ada satu pelajaran pun yang nyangkut ke otakku. Kepala ku rasanya berat sekali dan badan ku rasaya lemah.

"Fell, cepetan pulang yuk? gue gak enak badan nih." ajak ku.
"Sorry Ayy, gue hari ini gak bisa pulang bareng loe,soalnya tadi Andra bilang mau ajak gue pulang bareng. Gak apa-apa kan Yya?" ucap Fella pada ku dengan raut muka memohon.
"Ooh yaudah gak apa-apa. Gue balik sendiri ya." kata ku pelan
"Sorry banget yah Ayy, hati-hati yah." gumam Fella
"Iya gak apa-apa, Byee...." sahut ku. Aku mengambil tas ku dan bergegas keluar kelas meninggalkan Fella yang masih berada dikelas. Aku benar-benar kehilangan mood ku, badan ku lemas. Hati ini menjerit, manangis namun tak ada seorang pun yang mendengar. Batin ku pedih tersayat-sayat menggores luka yang amat pahit. Perasaan ku campur aduk seperti ketoprak namun kalo ketoprak rasanya enak tapi hati ku kecut rasanya..

Aku berlari meninggalkan sekolah, terus belari dan berlari tanpa arah yang ada dipikiran ku hanya ingin meninggalkan kenyataan ini. Sampai ku berhenti karena kepala ku pusing dan tubuh ku sempoyongan seperti orang mabok. Aku pun menangis sekencangnya gak sanggup untuk membendung air mata ku ini, yang dengan seketika bocor. Tiba-tiba rintikan hujan mulai turun dan menjadi lebat. Air hujan mengguyur tubuh ku, seragam ku pun basah. Tubuh ku menggigil kedinginan bibir ku bergetar namun hati ku tetap panas. Dinginnya air hujan tak dapat mendinginkan hatiku yang berkecamuk.

"Kenapa gue gak bisa raih kebahagiaan gue?? Kenapa gue gak bisa bersama orang yang gue cintai?? Kenapa harus Fella yang dicintai Andra??  Kenapa bukan gue?? Tuhan gak adil!!! Gue benci semua ini!!! Gue benci..........!!!" Aku menjerit tak kuasa menahan sesak didada. Ku keluarkan semua beban perasaanku dengan menangis. Aku memang cengeng yah aku cengeng dan itu yang aku sesali dari diri ini. Sekujur tubuh ku telah basah kuyup aku menangis ditengah hujan yang deras. Suara petir menjelegar tak bisa lagi ku dengar yang kurasa hanya jeritan batin. Kaki ku tak dapat menahan lagi berat tubuh ku dan aku pun jatuh tersungkur di tanah. "Aku ingin pulang!!" itu lah yang ada dibenakku saat ini. Namun tubuhku sangat lemah kaki ku tak sanggup lagi untuk berdiri. Aku membiarkan air hujan turun membasahi tubuh ku yang lemah ini kepala ku sangat berat dan pusing.

"Reyya elo ngapain disini?" sesosok tubuh laki-laki datang menghampiriku namun aku tak dapat mengenali wajahnya karna aku hanya melihatnya samar-samar tapi aku dapat mengenali suaranya yang khas, mungkin itu Tian. Laki-laki itu membantu aku bangkit, tubuh ku menggigil dan terus menangis.
"Ya ampun baju loe basah gini, yaudah kita neduh dulu." katanya sambil memapah ku disebuah pondok tak jauh dari kompleks rumah ku.
"Loe kenapa sih Ayy?? Badan loe sampai menggigil gini. Fella mana??" Aku setengah sadar ku lihat matanya. Ekspresi  Tian tampaknya ia sangat cemas dengan kondisi ku. Badan ku terus bergetar karna dingin. Lalu ia melepas jaket jeans-nya kemudian memakaikannya ketubuh ku. Aku hanya diam saja menerima perlakuan baiknya.
“Ay, elo tau gak sih apa yang elo lakuin itu bisa buat elo sakit?” ucap Tian setengah marah
"Apa urusan loe!" jawabku ketus. Aku menyingkirkan jaketnya dari punggung ku.
"Gue emang bukan siapa-siapa loe, tapi gue tau perasaan loe. Memang sakit menyimpan rasa cinta diam-diam." ujar Tian. Kali ini Tian marah melihat sikap egois ku. Diraih jaketnya lalu memakaikannya kembali ke tubuh ku.
"Maksud loe apa??!" aku bertanya dangan nada berat. Mengadahkan wajah ku kedepan wajahnya.
"Gue tau elo jelous dengan kedekatan Andra dan Fella karena elo cinta sama Andra." jawab Tian. Aku kaget mendengar jawaban Tian, karena aku gak pernah cerita tentang perasaanku kepada siapa-siapa terutama kepada Tian.
"Apa?? Gue Cinta sama Andra?? gak banget. Apalagi jelous sama mereka. Sok tau banget sih loe!!! Omel ku pada Tian. Aku mencoba mengelak dari kebenaran yang diucapkan Tian.
"Kok Tian bisa tau perasaan gue? Tian tau dari mana yah kalo gue cinta sama Andra dan gue cemburu sama kedekatan Andra dan Fella." pikir ku dalam hati. Semenit kita saling diam aku dengan pikiran masing-masing.
"Gak usah bohongin perasaan elo Ya. Mata elo sendiri yang menunjukakannya." Tian mulai bicara serius.
"PERSETAN,, peduli apa loe sama gue??!!" Aku ngamuk dan membentak Tian.
"Gue peduli sama loe Ayy, karna gue ..." tiba-tiba Tian berhenti berkata sambil menghela nafas.
"Karna loe apa hah?? Loe seneng ngeliat gue menderita kayak gini??" ucap ku lirih.
"Maksud gue bukan itu Ayy. Yasudah lupakan." gumam Tian "Ayya kita pulang yuk?" sambungnya. Tian merangkul bahu ku mengajak pulang.
"Loe pulang aja sendiri, gue masih mau disini." bentak ku padanya melepaskan rangkulanya.
"Loe jangan nyiksa diri loe sendiri Yya, mana mungkin gue ngebiarin loe disini dengan kondisi kayak gini. Apa lagi hujan masih deras." ujar Tian pada ku matanya berubah menjadi tajam.
"Jangan sok perhatian deh sama gue." sahut ku jutek aku menunduk tak berani melihat wajahnya.
"Emang salah kalo gue perhatian sama elo? Ok gue emang bukan siapa-siapa loe tapi niat gue baik Yya. Ngapain sih loe nyiksa diri loe kayak gini. Apa untungnya buat loe? Yang ada bikin loe tambah tersiksa. Loe nangis sekenceng-kencengnya, loe teriak sekuat-kuatnya disini. Apa Andra bakal denger?? gak kan? Semua ini gak bakal ngerubah keadaan, malah bikin hati loe tambah sakit. Kalo elo mau ngerubah semuanya, loe datangin Andra loe bilang kalo loe cinta sama dia dan elo datangin Fella loe bilang loe cemburu sama dia! Jada ngapain loe disini aja." Tian berdiri dan memarahi ku seperti memarahi anak kecil. Nada suaranya berat namun teratur. Aku tertunduk lesuh merenungkan kata-kata Tian tadi, bibir ku diam seribu bahasa. Aku gak dapat membalas kata-kata Tian, memang benar apa yang dikatakan Tian. Aku menyesali sudah memarahi Tian. 
"Aya sorry yah, gue gak maksud buat kasar sama loe." Suara Tian meredup kembali wajahnya tidak setegang tadi ia kembali duduk di sebelahku.
"Gak apa-apa Ian, loe bener kok buat apa gue kayak gini cuma nyiksa badan gue." ucap ku pelan masih menunduk.
"Syukur lah kalo loe sudah menyadari semua. kita pulang yuk? Hujannya sudah agak reda." Ajak Tian pada ku sambil memapah tubuh ku menuju mobil Honda Jazz hitam miliknya. Aku diam dan mengikutinya saja.

~BERSAMBUNG~



Tidak ada komentar:

Olivia Resty Amallia. Diberdayakan oleh Blogger.