Writer : Olivia Resty Amallia
Terik matahari pagi membuat butiran keringat semakin banyak meleleh didahi dan leher. Kaus basket yang gue kenakan pun kini basah oleh peluh. Napas gue kian memburu dan kadang mendengus. Tapi gue masih asyik men-dribble bola basket dan menge-shoot ke arah ring. Walaupun halaman rumah gue gak terlalu besar tapi dengan adanya ring okelah untuk gue bermain basket. Yaaah ini lah gue LIANY OKTAVIA kalian bisa memanggil gue Lian. Disaat hampir setiap cewek menghabiskan waktu untuk berdandan, shopping bahkan kesalon. Gue lebih pilih menghabiskan waktu bermain basket dan bagi gue basket itu bagian dari hidup gue. Enggak tau kenapa gue sangat mencintai basket, dari pada gue menghabiskan waktu untuk hal yang gak penting dan gak banget yang biasa dilakuin cewek-cewek RIBET, uuuppppsssss.
“Liaaannnnn!” teriak dari kejauhan seorang cewek dengan mengenakan baju terusan berwarna pink dan high heels yang tidak terlalu tinggi. Seketika itu gue berhenti men-dribble bola dan segera menghampirnya.
“Ada apaan kerumah gue minggu pagi begini?” tanya gue malas dan berdiri sejajar dengannya. Cewek itu adalah Shela Alunindya Pradipta, yang biasa gue panggil Ila. Sebenarnya sih bukan murni gue yang mau panggil Ila tapi dia yang maksa gue panggil “Ila” katanya sih biar terkesan cuu-teee dan manja. Padahal namanya saja S-H-E-L-A yang seharusnya nicknamenya ELA bukan ILA tapi emang dasar cewek R-I-B-E-T. Tapi seribet apapun Ila, dia adalah sahabat gue. Ila dan gue sudah bersahabat mulai dari SD dan gue juga bingung kenapa gue bisa dekat dan bersahabat dengan Ila. Padahal banyak banget perbedaan dari urusan penampilan, kepribadian, bahkan kesukaan. Kalau gue berambut pendek sebahu dan hanya di ikat acak-acakan, sedangkan Ila rambutnya dibiarkan terurai panjang sepunggung dengan ditambah aksesoris pita diatasnya dan itu membuat gue kadang gerah melihatnya. Kulit gue berwarna agak coklat karna sering panas-panasan bermain basket, sedangkan Ila kulitnya putih bening seperti tanpa cacat mungkin dia tidak pernah lupa mengolesi kulitnya dengan kosmetik yang bermacam merk dan berharga mahal. Kalau gue jarang berdandan kecuali terpaksa (dipaksa mama), sedangkan Ila mau kewarung kudu make up’an dulu. Menurut ku berdandan itu buang-buang waktu saja, lebih baik bermain basket, playstasion, atau membaca komik connan. Mungkin semua orang bingung melihat gue bersahabat dengan Ila yang sangat berbeda 180%. Tapi itulah namanya SAHABAT tak melihat dari sudut apapun selama gue nyaman bersahabat dengan Ila dan Ila pun nyaman bersahabat dengan gue.
“Gue…gue kangen sama loe.” Jawabnya centil lalu menyikut lengan gue dan tersenyum sok imut.
“What!! Gak beres loe, hampir tiap hari kita ketemu disekolah, apa jangan-jangan loe naksir gue???? Tapi Ila malah tersenyum menggoda sambil mengedipkan matanya.
“You’r crazy!!! Enggak enggak, walopun penampilan gue begini tapi gue juga masih normal dan masih suka cowok. Gila loe yaa?!” geram ku dengan nada tinggi karna sikap Ila yang tidak beres.
“Bercanda kali woyy, gue juga bukan LESBONG. Buktinya gue punya Evan pacar gue, dari pada loe masih jomblo. Berarti yang gak normal itu loe kan??” kini Ila malah meledek gue.
“Gue jomblo bukannya gak laku atau lesbong, tapi gue jomblo karna sampai sekarang belom ada someone yang ngena dihati gue. I believe someday will come my princes dan orang yang pertama gue kenalin adalah elo” jawab gue sambil senyum-senyum sendiri.
“Iya deeh gue doakan supaya loe dapet someone yang cocok sama loe, supaya kita bisa ngedate bareng.” ujar Ila sambil mengerlingkan matanya yang lucu dan gue hanya tersenyum dan berharap ucapan Ila terkabulkan. Walaupun hidup gue bisa dibilang cuek tapi bagaimana pun gue juga manusia yang ingin ngerasain falling in love. Kata orang-orang sih rasanya bikin lupa segalanya, tapi gue belom percaya karna gue belom ngerasain. Kini Ila menggaruk-garuk kakinya mungkin karena mulai pegal berdiri sedari tadi dengan sepatu high heels-nya.
“Masuk yuuk, emang gak pegel berdiri lama disitu” Gue mengajak Ila masuk kedalam rumah dan menuju kamar gue.
Kamar yang berukuran sedang dan bercat warna ungu gelap adalah tempat favorite gue. Tidak begitu banyak furniture hanya bed, lemari, meja serbaguna, rak buku tempat koleksi komik gue, poster doraemon dan gitar yang selalu jadi teman. Gue langsung duduk diatas tempat tidur begitu juga Ila, ia mengikuti ku duduk di kasur tepatnya berhadapan dengan gue sambil memeluk boneka Super Mario.
“By the way loe kerumah gue pasti ada alasan lain kan?”
“hee…heee.. iya sih kok loe tau?” jawab Ila cengengesan
“Udah ketahuan dari bau kedatangan loe.” jawab ku sambil melempar bantal kearahnya.
“Buukk” bental tersebut jatuh tepat diwajah Ila.
“Sakit tau!! Nanti muka gue lecet repot urusannya.” gerutu Ila kesal. “Lian loe kan sahabat terbaik gue dari SD, loe pasti mau kan bantuin gue??? Please ini tentang nasib percintaan gue.” rayunya dengan tampang memelas. Benar saja perkiraan gue kalau ini anak kerumah gue pasti ada maunya dan itu masalah CINTA, mau gak mau gue harus MAU apa lagi kalau udah dikaitin dengan kata persahabatan. I can’t say NO and it’s very annoyed.
“Kenapa harus gue??” tanya gue sambil menggaruk-garuk kepala padahal tidak gatal.
“Kan loe S-A-H-A-B-A-T gue??” Ila menjawab dengan tampang innocentnya.
Gue membalas memamerkan tampang ter im-Moouutt “Oke..oke.. whats your problem honey??”tanya gue
“Aaaaahhh Ila kenapa sih harus gue yang loe pinta bantuan, kalo masalah lain sih gue fini-fine aja ikut campur. Nah ini masalah loe dengan Evan pacar loe. Orang pacaran emang REMPONG.” keluh gue dalam hati, mencoba mengumpulkan energi untuk mendengarkan curhatannya.
“Gini masalahnya Iaan, si Evan ngajakin gue candle-light dinner nanti malam.”
“Bagus dong, terus yang jadi masalah apa??
“Masalahnya gue gak dibolehin keluar, karna nanti malam eyang gue bikin acara syukuran jadi seluruh keluarga wajib ngumpul. Jadi gue gak boleh pergi kemana-mana harus ikut kerumah eyang gue” Ila menyelesaikan kalimatnya. Gue menarik napas menerka-nerka apa yang bakal dilakuin oleh Ila. Sahabat gue yang satu ini emang keras kepala. Kalau keinginannya tidak dikabulkan dia akan melakukan something desperate, and it’s make me afraid.
“Emang acara candle-light dinner sama Evan gak bisa dicancle?”
“Gak bisa Iaan.” Gue lihat muka Ila memelas kayaknya pacar Ila sudah keterlaluan egoisnya.
“Kok Evan gak pengertian sih??” sahut ku kesal
“Bukan gitu, Evan gak tau kalo gue harus kerumah eyang karna gue gak cerita. Soalnya gue pengen banget candle-light dinner sama dia. Kangennn…” ujarnya dengan senyum-senyum gak jelas.
Gue menatap Ila geram kenapa ia sangat lebih mengutamakan bertemu dengan pacarnya dari pada ikut acara keluarga. “Kalo gitu loe yang ngebet dong, Kenapa sih loe sampe segitu cintanya sama Evan. Bela-belain ketemu Evan dari pada eyang loe sendiri.” seru gue sambil melempar bantal lagi kemukanya.
Ila menunduk mungkin dia takut melihat tatapan gue atau Ila mulai menyadari kebodohannya.
“Ayolah Please bantuin gue?? Masa loe gak kasihan sih sama sahabat sendiri??” ucapnya lagi yang masih tetap kekeh untuk candle-light dinner sama Evan.
“Tapi gimana cara gue ngebantuinnya??”
“Nanti malam tepatnya jam 7 loe datang kerumah gue, loe pura-pura mau jemput gue untuk pergi ke acara birthday party temen kita. Pasti kalo loe yang jemput nyokap-bokap gue mau izinin. Tapi datangnya jangan lewat dari jam 7 karna gue pasti udah dipaksa ikut kerumah eyang.” Ila berceloteh tentang ide konyolnya.
Seketika gue terbelalak mendengar akal bulus Ila. Apalagi ini menyangkut nama baik gue didepan orang tuanya. Kalau ketahuan Bokap-Nyokap Ila bisa digambleng gue dengan tuduhan membantu pelarian ilegal anak semata wayangnya itu. “Gila loe yaa, itu sih sama aja bohongin orang tua, ogah ah gue. apalagi menyangkut tanggung jawab gue ke bokap-nyokap loe. Kalau ketahuan gimana???” balasku menolak.
“Gue mohon untuk sekali ini aja, gue jamin kita gak bakal ketahuan.” rayunya lagi tapi kali ini ia bungkuk-bungkuk didepan gue dengan menyilangkan kedua tangannya.
“…” gue diam
“Please……….sekali ini aja” pintanya lagi
“….” masih diam.
“Loe gak sayang sama gue yaaa, kan kita udah sahabatan lama. Mau yaa bantuin gue.” Mendramatisin suasana.
“…” tetap diam.
“Yaudah kalo loe gaak mau bantuin gue kabur aja.” ucapnya mengancam
Ila mengeluarkan senjata terampuhnya, dan ini yang membuat gue sulit menolak. Ide bodoh dengan mengancam akan kabur membuat gue marah. Kenapa Ila begitu sayang sama pacarnya sampai berfikir bodoh seperti itu. Cinta memang buta, benar-benar buta sampai gak terlihat mana yang baik dan mana yang buruk.
“Apa sih loe pake ancam kabur-kaburan segala. Loe itu cewek, kalo cowok sih kabur gak masalah. Nah kalo cewek kabur bahaya.” omel gue
“Makanya bantuin gue.” rengeknya manja
“Oke gue bantuin tapi untuk kali ini aja yaah.” Akhirnya gue luluh juga, bagaimanapun gue mau sahabat gue bahagia walaupun harus ikut ide konyolnya.
“Makasih Lian, you’r my best friend.” ucapnya dengan senyum ceria. “Tapi masih ada satu lagi problemnya iaan?” lanjutnya.
“Guuubraakkk!!! Apa lagi sih la?” Gue gak habis pikir sama ini anak.
“Kan mau candle-light dinner ni, tapi gue gak punya dress?” ungkap Ila
“Whatt???? Bukanya dress loe itu udah satu lemari. Loe masih bilang gak punya dress??” seru ku gemas dan menjitak kepalanya.
Ila meringgis kesakitan dan memonyongkan bibirnya. Mungkin karna ia slalu dimanja jadi ia masih bertingkah seperti anak kecil. Tapi entah kenapa gue nyaman bersahabat dengan Ila walaupun kadang menjengkelkan. Sehingga persahabatan itu telihat sempurna.
“Ih Lian semua dress gue itu udah pernah gue pake didepan Evan. Gue malu kan kalo pake dress yang sama di depan Evan” jawabnya tanpa rasa dosa
Kening gue mengkerut mendengar ucapanya rasanya gue ingin menjitaki Ila sampai ia sadar apa yang ia ucapkan. “Emang Evan sering komentarin penampilan loe??, emang Evan hafal semua dress yang loe punya??” tanya gue emosi
“Enggak pernah sih, tapi gue pengen penampilan yang berbeda setiap ngedate.” ucapnya enteng.
“Tapi itu sama aja pemborosan.” balas gue
“Kan cinta penuh pengorbanan” gumamnya
What the hell ! kenapa hal terbodoh dan terguablok demi cinta selalu dikaitkan dengan kata P-E-N-G-O-R-B-A-N-A-N. Apa sih arti PENGORBANAN sesungguhnya??? Apa pengorbanan itu harus hal yang konyol dan ga waras. Cinta itu kadang bisa bikin orang jadi norak seperti sobat gue yang satu ini. Tapi terserah lah itu hak dia. Gue sebagai sahabat sudah menegurnya. “Itu sih bukan pengorbanan, tapi berlebihan. Terus loe mau minta bantuan apa? Antar loe ke butik atau mall gitu?”
“Gak sih, gue lagi gak punya budget buat beli dress baru. Loe tau ini tanggal tua.” jawabnya melas
“Terus? Loe mau pinjam uang?” tawar gue
“Gak ah gue gak mau repotin loe, menurut loe ada cara lain gak yaa??” tanyanya
Gue gak habis pikir sama Ila pengorbanan cinta buat Evan benar-benar berlebihan. Buat bahagiankan pacarnya saja Ila harus memohon-mohon ke gue untuk membantunya berbohong ke nyokap-bokapnya demi candle-light dinner. Dan sekarang Ila kebingungan mau pakai dress apa buat ketemu Evan. Padahal dressnya numpuk satu lemari segala macam warna, model, merk hampir semua Ila punya. Cinta benar-benar GILA, semua orang yang terkena sihir cinta pasti rela lakuin apa saja demi cintanya. Termasuk hal terbodoh dan terkonyol sekalipun. So far cinta dapat membunuh karakter. Demi cinta orang dapat melakukan hal yang nekat sampai bunuh diri. It’s really crazy.
“Oiya gue kan punya dress, loe mau pinjam gak??.” tawar gue. Walaupun gue cuek dan tomboy gini tapi gue juga masih nyimpan dress. Bagaimana pun kodrat gue kan CEWEK.
“Are you serious??” tanyanya kaget sambil melotot kearah gue
“Iyee, seakan-akan surprise banget gue punya dress.”
“Hehe…hee soalnya yang gue tau dilemari loe itu gak nyimpan dress, rok aja cuma rok sekolah. Makanya gue kaget.” Ujarnya. Memang benar sih gue gak suka sama fashion begituan bagi gue cukup nyaman dengan pake jeans, T-shirt, dan sepatu skate. Itu gaya andalan gue.
“Emang gak disimpan dilemari gue, soalnya gak pernah gue pake. Jadi nyokap gue yang simpan. Yaudah gue ambilin dulu.” ujar gue dan langsung beranjak ke kamar nyokap untuk mengambil dressnya.
Sebuah short prom dresses berwarna putih dengan lekuk tubuh dan dihiasi pita di bagian pinggangnya dengan potongan kerah halrter yang sangat chic membuat tampak manis dan anggun yang memakainya. Tetapi gue gak pernah mau untuk mencoba memakainya karna menurut gue memakai dress itu sangat-sangat tidak nyaman.
“Ini Iaan dress-nya?” tanya Ila sambil meraih short prom dresses punya gue.
“Iya ini dress-nya. Gimana bagus kan?”
“Bagus banget, kok loe bisa punya dress semanis ini sih?” tanyanya penasaran.
“Ini dress dibeliin tante gue, oleh-oleh dari paris. Katanya dress ini khusus dibelikan buat gue supaya gue belajar jadi cewek FEMINIM.” Balas gue malas
“Tapi kenapa gak loe pake? Tapi bener deh loe harus rubah penampilan loe, yahh sedikit feminim laah biar cowok-cowok ngelirik loe.” ujarnya sok menasehati gue sambil terus menerawang short prom dresses berwarna putih tersebut.
“Udah deh laa jangan bawel, kan udah gue bantuin lagi juga gue mana pantes pake dress kayak beginian.” Sahut ku sewot.
“Iya deh maaf, makasih yaa iaan loe benar-benar the best deh. Loe slalu ada disaat gue lagi butuhin kayak gini. Gue gak nyesel punya sahabat yang slalu ngertiin kayak loe. Walupun gue nyebelin, ngerepotin, sampe bikin loe marah sekalipun loe masih mau bantuin gue. I miss you Liiaaannn.”
“Udah deh lebay-lebayannya. Tapi emang benar loe slalu nyebelin.” ucap ku sambil menepuk jidat Ila dan kami pun tertawa bersama. “Asal loe tau la seberapa besar nyebelinnya loe, tapi gue sangat sayang loe.” ucap gue dalam batin.
……………………………………………………………………………………
ILA P.O.V
“Sayang kamu cantik sekali malam ini, kok kamu cepat sekali udah dandan buat acara ke eyang nanti.” tanya mama yang tiba-tiba nyelonong masuk ke kamar.
Aku yang menyadari mama ada dibelakang ku langsung melonjak kaget. “Mama mah kagetin aku saja. Aku tuh siap-siap bukan untuk kerumah eyang. Tapi aku sama Lian mau ke birthday party teman sekels kita mam.” celoteh ku berbohong.
Aku tau perbuatan ku ini dosa telah membohongi mama-papa ku. Tapi mau gimana lagi malam ini candle-light dinner sama Evan yang aku tunggu. Aku yakin Evan akan memberikan surprise yang gak akan terlupa buat aku. Evan aku sangat mencintai mu.
Mama terkejut mendengarkan ucapan ku karna aku memang sengaja tidak memberi tahu mama dahulu. Ini sudah aku rencanakan matang-matang agar misi ku candle-light dinner sama Evan sukses “ Kan sudah mama bilang malam ini kamu gak boleh pergi kemana-mana harus ikut mama-papa kerumah eyang. Kamu gimana sih?” mama terlihat marah dan kesal.
“Tapi mah aku udah kasih tau Lian buat jemput aku, sebentar lagi Lian sampai. Kasihan kalau tiba-tiba aku batalin. Percuma Lian jemput aku bisa-bisa Lian marah sama aku.” ujar ku dengan akting memelas supaya dikasihani mama.
“Yasudah coba mama omongin ke ayah dulu.” Mama berlalu dengan wajah kesal menahan marah. Maafkan aku mama sebenarnya ada rasa bersalah bohongin mama, tapi aku sangat mencintai Evan dan gak mau kecewain Evan.
……………………………………………………………………………………
Balik ke P.O.V Lian
Pukul 18:30 gue masih asik memetik senar gitar sambil melantunkan lagu Cold-play.
I could feel it go down
Bittersweet, I could taste in mouth
Silver lining the cloud
Oh and I
I wish that I could work it out.
Setengah jam lagi jam 19:00, dan gue harus pergi kerumah Ila dan berpura-pura menjemput Ila sesuai skenario Ila. Tapi benak gue masih tetap menolak untuk melakukan ide bodoh itu. “Aaarrggghhhh loe yang pacaran, gue yang repot. Ila Ila untung loe sobat gue.” keluh ku sambil mengacak-acak rambut.
Bayangan Ila tiba-tiba muncul dipikiran gue menambah dilema yang gue rasain sekarang. Gue udah janji buat bantuin Ila berarti gue harus siap-siap sekarang kalau gak bisa ngambek dia. Gue pun beranjak dan mulai bersiap-siap ganti baju.
Drrrtttttt drrrrtttt drrrttt
I pesan baru
“Pasti ini dari Ila.” pikir gue sambil meraih handphone yang berada dikasur.
From : Ila jelek
Liiiiaaaaannnn
Cepetan k’hos gue ntar gue k’buru
dibopong k’rumah eyang. Kasihan pcr gue nunggu.
Oia, biar misi kita succses loe pake baju bagusan dikit
biar nyokap gue percaya kita mau k’party. GECE!!
“Baawweellll.” omel gue kesal dan melempar handphone ke kasur. Gue mulai bingung memilih baju yang tepat buat ngejalanin sekenario Ila. Dan “tring” gue mendapatkan ide untuk meminjam baju mama. Segera gue kekamar mama dan mengubek-ubek lemari besar tiga pintu ini. Memang ukuran baju mama sama seperti gue. karna tinggi, lebar, dan bentuk body mama sama seperti gue. Mama memang tergolong masih mudah karena mama menikah saat berumur 20 tahun sehingga saat usia gue sekarang 16 tahun mama masih berumur 37 tahun. Akhirnya gue menemukan baju yang tepat sebuah baju atasan tanpa lengan berwarna putih polos dan balero hitam berpita. “Mungkin ini akan manis kalau dipadupadan kan, taapii bawahannya apa yah??? Masa pake jeans yah gak mathcing dong.” pikir gue bertambah bingung.
“Lian apa-apan kamu berantakin lemari mama?” Mama masuk mengagetkan gue sambil marah-marah.
“Maaf mah aku tadi cari baju buat ke birthday party bareng Ila.” Terpaksa gue bohong, sebenarnya gue gak mau bohong tapi kalau mama tau pasti gue dilarang bantuin Ila. “Ila Ila gara-gara loe gue bohongin nyokap gue kan, awas aja loe yahhh???” gerutu dalam batin gue.
“Oh yaudah sini mama bantuin, coba bilang sama mama gak bakal berantakan gini.” ucap mama lembut. Mama memang makhluk paling sabar walaupun gue sudah bikin dia marah tapi dia tetap ramah dan mau bantuin gue.
“Atasan sama balero itu cocok Li, pasti kamu kelihatan manis kalo pakai itu.” ujar mama sambil menempelkan atasan dan balero itu dibadan gue. Gue hanya diam saja sambil memperhatikan raut wajah mama yang menyejukkan. Cuma mama yang memanggil gue dengan nickname “LI” yang lain memanggil gue dengan sebutan “IAN” kata mama gue gak pantas dipanggil Ian karna seperti cowok.
Akhir sesuai tataan mama gue malam ini memakai atasan tanpa lengan dan balero dengan di padu rok selutut yang agak ngembang juga dipoles beberapa bedak. Tadinya sih mama menambahkan lipstick tapi gue teriak sehingga mama menghapus lipstick yang tadi menghiasi bibir mungil gue. Sebenarnya gue malas didandani oleh mama seperti ini. Seakan gue boneka yang gak bebas gerak, mau jalan saja ribet. Tapi karna bujukan mama tercinta gue jadi pasrah diapa-apain saja yang penting jangan suruh gue pake LIPSTICK dan MASCARA. Paling jijik deh sama begituan.
Pukul 18:55 sudah banyak misscall gue segera mengambil kunci mobil dan bergegas menjemput Ila. Selama perjalanan gue gak habis pikir sama tingkah Ila. Seakan gue ingin melakukan riset penelitian tentang apa ada hormon tertentu yang berpengaruh pada alam sadar seseorang yang menyebabkan orang tersebut melakukan segalanya demi cinta termasuk hal nekat. Dan orang pertama yang sebagai kelinci percobaan gue itu adalah SHELA ALUNINDYA PRADIPTA. Tak terasa sudah sampai didepan rumah ila. Gue harus siap berakting didepan nyokap-bokap Ila. Gue pun turun dari mobil dan mulai masuk kedalam rumah Ila.
“Mama Lian udah datang nih, aku berangkat dulu yah mah soalnya sudah telat nih.” Ila berseru dengan suara cemprengnya dan langsung menarik gue ke mobil. “Loe apa-apaan sih, gue aja belom ketemu nyokap-bokap loe.” Gumam gue kesal.
“Udah ntar aja yang penting kita harus kabur dulu sebelum nyokap-bokap gue tanya-tanya yang gak penting. Bisa-bisa gue gak jadi candle dinner sama Evan.” cerewetnya Ila. Rasanya gue ingin jitakin dia sampai tangan gue merah sangking kesalnya. “Ila ila tunggu mama dulu nak.” panggil mama Ila menghampiri gue dan Ila. “Iyah apa?” sahut Ila cuek sepertinya Ila memang terjangkit sindrom gilaiuscintakus akut sampai-sampai ia mulai berani menentang orang tuanya.
“Mama cuma mau bilang pulangnya jangan malam-malam, jam 11 harus sudah ada dirumah. Lian jaga Ila yaa.” ucap mamanya lembut.
Sumpah demi apapun gue gak sanggup. Tega banget si Ila ngelakuin ini pada mamanya. Apalagi ujung-ujungnya gue yang dipercaya buat tanggung jawab jagain ini anak. Sudah habis kesabaran gue rasanya ingin gue pites, lihat saja nanti dimobil.
Didalam mobil gue cuma diam dan gak sedikit pun bicara. Hanya suara deru mesin mobil dan hembusan nafas masing-masing. Gue lebih baik diam dari pada berbincang-bincang dengan Ila yang nantinya akan membuat gue emosi. Itu dapat membahayakan gue yang sedang menyetir mobil. “Tumben loe pakai rok, gara-gara gue kan loe mau berubah.” Ila memecah keheningan yang sedari tadi tercipta tapi gue diam gak membalas omongan Ila. Gue masih memendam sebal pada sobat disamping gue ini.
“Kok loe diam saja sih, ngomong dong.” Kini Ila menitik beratkan ucapannya. Mungkin dia BT karna gue cuekin. Akhirnya gue pun bicara “Loe sadar gak sih sama yang loe lakuin?” dengan nada datar. “Maksud loe apa???” tanyanya. Gue memberhentikan mobil ditepi jalan dan gue sudah gak tahan dengan tingkah Ila yang seperti ini.
“LOE SADAR YANG LOE LAKUIN INI HAL BODOH MALAH YANG TERBODOH!!! LOE TEGA BOHONGIN NYOKAP-BOKAP LOE, BAHKAN LOE LEBIH PILIH BUAT NGEDATE SAMA EVAN KETIMBANG LOE DATANG KE SYUKURAN EYANG LOE.
PADAHAL MEREKA SEMUA ITU SAYANG SAMA LOE DAN MEREKA BERHARAP BANGET LOE HADIR DITENGAH-TENGAH MEREKA. PERNAH GAK SIH LOE BERFIKIR BUAT BAHAGIAIN MEREKA BUKAN CUMA BAHAGIAIN COWOK SAMA DIRI LOE SENDIRI. COBA LOE BAYANGIN!!! Bentak gue emosi. “Asal loe tau demi loe sahabat gue, gue rela bohongin nyokap gue. Gue mau lakuin ini karna gue sayang sama loe Ila.” tambah gue lagi tapi kali ini gue merendahkan nada suara gue. Terlihat Ila menunduk dan wajahnya pucat ketakutan. Mungkin dia takut mendengan gue membentak dia tadi.
Melihat dia seperti itu gue langsung memeluknya dan menenangkannya. “Maafin gue la udah bentak-bentak loe tapi gue begini karna gue sayang sama loe. Kita udah lama sahabatan gue mau yang terbaik buat loe.” ucap gue sambil mengelus punggung Ila lembut mencoba menenangkannya. Gue lihat wajahnya terdapat butiran air mata disudut matanya. Sepertinya dia menyesal satelah gue tegur dia tadi. Gue hapus air matanya dan tersenyum. “Sudah jangan nangis lagi nanti make up-nya berantakan lho kalo dilihat Evan gimana?” ucap gue lembut.
“Maafin gue yah Ian gue udah egois, gue lebih pentingin kesenangan gue dari pada keluarga gue. Gue sangat berterima kasih karna gue punya loe sahabat gue yang slalu ada saat gue butuh dan disaat gue lagi angkuh loe sadarin gue. Gue sayang elo iaaan.” Ila langsung memeluk gue dan gue langsung membalas peluknya. “Yang penting loe janji gak boleh egois lagi yaa?” gue mengancungkan kelingking dan Ila pun membalas kelingking gue “Gue janji demi persahabatan kita.” Ucap janjinya.
Gue pun kembali mengemudikan mobil menuju taman disana sudah menunggu Evan. Sampai ditaman Ila pun langsung turun tersenyum sumringah dan segera menghampiri Evan “Hallo honey maaf aku telat.” ucap Ila sambil bergelayut mesra di lengan Evan. Tetapi Evan masih diam dan belum menjawab ucapan Ila. Evan menatap lekat, matanya menjelajah tubuh gue dari bagian kaki sampai rambut, sehingga gue menjadi kikuk. Matanya tidak lepas dari gue, bagaimana pun gue cewek normal yang merasa salah tingkah ditatap sedemikian oleh seorang cowok. Mungkin Evan pangling dengan penampilan gue malam ini yang beda 180° dengan keseharian gue disekolah maupun dirumah.
“Sayang kok diam saja?” tanya Ila kesal sambil mencubit lengan Evan. Ila kesal karna sedari tadi diacuhkan oleh Evan.
“Auuww.” Evan meringis kesakitan. “Iya maaf-maaf beib.” balas Evan sekedarnya.
“Tumben Iaan pake rok?” tanyanya pada gue mengerutkan dahi sambil tersenyum.
“Ni gara-gara pacar loe, tanya saja sama pacar loe.” jawab gue mesem. “Yaudah yaa dari pada gue kayak obat nyamuk mending gue cabut aja.” Lanjut gue lagi sambil segera kembali ke mobil. Gue sempatkan menoleh sekilas kemereka.
~Bersambung kebagian #B~





Tidak ada komentar:
Posting Komentar