Kamis, 21 Juni 2012

Kenapa Harus Gue? *B (CERPEN)

Writer : Olivia Resty Amallia


“Ni gara-gara pacar loe, tanya saja sama pacar loe.” jawab gue mesem. “Yaudah yaa dari pada gue kayak obat nyamuk mending gue cabut aja.” Lanjut gue lagi sambil segera kembali ke mobil. Gue sempatkan menoleh sekilas kemereka.

“Gue pulang atau enggak yah?” gue berpikir sebentar dalam mobil. Perut gue tiba-tiba berbunyi rasa lapar pun mulai terasa. Gue memutuskan untuk mampir dahulu kesebuah tempat makan kaki lima  yang biasa gue kunjungi bersama Ila. Segera gue lajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju café pinggir jalan kesukaan gue itu.

Sesampainya disana gue pun langsung memesan nasi goreng special menu handalan gue dan Ila. Hampir setiap malam gue dan Ila mengunjungi café pinggir jalan ini untuk menikmati sajian favorit kita dan bersantai. Tapi semenjak Ila berpacaran dengan Evan tepatnya tiga bulan yang lalu. Kini Ila jarang menghabiskan waktu bersama gue. Ila sekarang banyak menyita waktunya untuk bersama Evan.

Sepiring nasi goreng special ini sudah ada didepan gue. Gue pun langsung melahap sedikit demi sedikit dengan ditemani alunan musik jalanan. Pikir ku melayang pada Ila dan Evan. Ila pasti bahagia sekali malam ini menikmati malam bersama orang terkasih. Sedangkan malam-malam gue, gue habiskan sendiri. Gue juga ingin merasakan bahagiannya cinta. “Apa gue harus mulai membuka hati?” tanya gue sendiri. Tapi apakah ada yang mau dengan cewek cuek seperti gue, yang gak peduli dengan kecantikan Sungguh beruntungnya Ila selain cantik dan modis, Ila telah mendapatkan sosok laki-laki yang perfect seperti Evan. Pantas saja Ila sangat tergila-gila dengan Evan. Evan Naminis Praduta the most charming boy salah satu pangeran disekolah. Pembawaannya yang cool, pesonanya yang dahsyat mampu memikat hati setiap yang melihatnya. Bukan hanya itu ia juga dijuluki manusia serba bisa karna ia smart dibidang akademik, jago dibidang olahraga. Apalagi ditambah ia putera sulung seorang pengusaha besar bidang property. Itu semua membuat namanya naik daun didalam dan luar sekolah. Rasanya menyantap nasi goreng  ini tidak selezat ketika makan bersama Ila. Hanya bersama sahabat suatu hal biasa dapat berubah menjadi luar biasa. Gue kangen saat-saat bersama Ila dahulu, menikmati masa jomblo bersama dan gak ada ke galau diantara kita. Terhanyut dalam diam sosok Evan pun berkelebat dibenak gue. Sepasang mata hitam bulat yang menusuk dengan alis tebal membuat sorot matanya tajam. Tatapan matanya tadi seperti ada sesuatu yang tersirat tapi gue gak bisa mengartikannya. Sama seperti kejadian tempo hari lalu saat malam jambore api unggun.

Flashback..
Malam semakin larut dan selesai sudah acara api unggun jambore SMA Kasih Bunda. Semua para siswa mulai bergegas masuk tenda masing-masing. Beberapa masih ada yang diluar tenda sekedar mencari angin malam atau bercanda ria bersama kawannya sambil minum kopi. Moment Jambore ini memang benar-benar menjadi hal yang tidak boleh terlewatkan, karena hanya sekali dalam setahun. Dinginnya angin malam di perkemahan Gunung Bundar benar-benar terasa menusuk tulang. Tapi itu tidak menghalangi kami untuk menghabiskan malam panjang dengan berkumpul sekedar bernyanyi ria sambil menikmati jagung bakar. Rasanya gue ingin menikmati malam ini sendiri sambil melihat indahnya malam. Gue beranjak bangkit dari duduk meninggalkan keseruan mereka. Sambil berjalan gue mengadahkan kepala menatap langit malam bertabur bintang. Malam yang sangat indah penuh bintang berkelap kelip ditambah anggunnya bulan. Tanpa gue sadari gue berada ditepi bukit, untung saja gue tidak jatuh. Mata gue terbelalak melihat jutaan lampu kota berwarna-warni. Pemandangan yang benar-benar menakjubkan. Dari sini lampu-lampu kota seperti deretan bintang yang berantakan namun indah.
“Hey Lian, ngapain elo disitu?” suara cowok mengagetkan gue. gue menengok kebelakang dan melihat Evan sedang berdiri membawa senter
 “Sini deh lihat van, keren lho.” Gue menarik tangan Evan menunjukan indahnya lampu kota dari atas bukit ini.
“Wiihh keren.” Evan memandang takjub. Gue tersenyum sambil terus memandangi indahnya lampu kota. “Kok elo tau sih tempah keren kayak gini.” Sambung Evan lagi.
“Iya dong gue yekan.” ucap gue bangga.
“Oya elo kok gak ngumpul bareng mereka?” balas Evan
“Tadi udah gue ngumpul sama mereka, gue lagi mau jalan-jalan aja nikmatin malam ini. Akhirnya gue nemuin pemandangan keren kaya gini deh. Nah elo sendiri kok gak sama Ila, nanti Ila cariin lho” celoteh gue masih menatap jutaan lampu kota.
“Ila lagi asik gabung sama mereka, tadi gue izin mau nyari angin sebentar. Terus ketemu sama elo deh disini.” jelas Evan. “Eh lihat deh lampu yang disebalah sana.” Sambungnya lagi tapi kali ini ia menunjuk kumpulan lampu air mancur yang berderet dan berwarna-warni. Cahaya gemerlap merah, ungu, biru, pink dan jingga, seperti membentuk buyaran kembang api diudara.
“Wow sumpah lampunya kok bisa gitu yah? Beda sama yang lain bener-bener amazing!” ucap gue kagum.
“Iyah sama seperti elo.” jawabnya datar. Dia sedikit berdeham dan membuang nafas. “Elo itu beda dari yang lain. Nah perbedaan itu yang membuat elo lebih” Evan berucap pelan  pandangan  matanya tepat sejurus dengan mata gue. Kata-kata sederhana yang barusan telontar membuat gue mati kutu. Ditambah sorot mata yang teduh sekaligus tersirat makna tersembunyi didalamnya.

Sesuatu berdesir dalam hati gue, mendapati diri gue seperti orang tolol yang memikirkan pacar sahabatnya sendiri. Gue gak mungkin pagar makan tanaman, mana tertarik gue sama Evan cowok sok jual pesona kesemua cewek seperti itu. Okelah dia memang tampan, keren, idola sekolah pula. Tapi menurut gue punya pacar seperti dia bikin repot dan gak sepadan dengan gue yang berpenampilan cuek bebek seperti ini. Gak kebayang jika gue bersanding dengan dia. Hobby gue yang memakai kaus oblong, celana jeans, dan sepatu kats dan itu sudah menjadi gaya handalan gue. Harus diubah dengan dress, high heels, make up dan segala macam perabotan ribet lainnya. Buktinya saja Ila hanya untuk ngedate dengan Evan mala ini saja hebohnya bukan main. Dress yang sudah selemari dan seabrek-abrek dibilang kurang hanya untuk bertemu dengan Evan. Dan satu lagi Evan itu bukan selera juga tipe gue. Cowok macam dia mana mau diajak makan pinggir jalan seperti ini. Mustahil pasti dia tengsin untuk makan ditempat seperti ini. Apalagi jika ada teman se tim basketnya yang melihat, bisa-bisa dia gengsi takut turun pamornya. Intinya jalan dengan cowok sejenis Evan adalah hal yang paling ribet, dan gak sebebas semau selera gue. Kenapa gue jadi membahas tentang Evan sepertinya gue lagi kacau malam ini. Gue lirik jam di handphone yang sudah menunjukkan pukul 22.00. Segera gue bayar seporsi nasi goreng ini ke mamang langganan gue, dan gue pun memutuskan pulang.


Sampainya dirumah gue langsung ganti baju dengan kaus oblong andalan gue dan celana pendek gombrong. Akhirnya lepas juga gue dengan pakaian serba tidak nyaman tadi. Seumur-umur gue malas memakai rok begituan apalagi ditambah high heels rasanya kaki gue kram. Gak kebayang deh nanti saat gue menikah. Rasa kantuk tiba-tiba menyerang hampir saja gue terlelap. Tetapi handphone gue begetar tanda satu panggilan masuk. Dengan malas gue raih handphonnya dan gak sempat membaca kontak yang menelpon. Rasanya kesal, gak tau apa ini sudah hampir jam sebelas malam ganggu orang saja apa tidak bisa nanti pagi menelponnya.

Setelah terhubung terdengar suara tangisan dari balik telpon, dari suaranya itu jelas sekali suara Ila. Rasa kantuk pun hilang, yang ada rasa penasaran apa yang membuat sahabat gue nangis malam-malam begini. Tangisan Ila terisak-isak lama, suaranya bergetar sesegukkan bahkan untuk bicara saja Ila susah karna menahan sesaknya sampai menunggu beberapa lama baru Ila siap bercerita. Semalam suntuk gue mendengarkan cerita dan curhatan Ila. Awalnya gue tidak percaya kalau Evan Naminis Praduta pacar yang dibangga-banggakan, dipuja-puja, bahkan diagung-agungkan oleh Ila adalah penyebab hancurnya Ila. Bukannya hanya Ila yang merasakan sakitnya, gue pun juga merasakannya. Bayangkan saja pengorbanan Ila untuk cowok berengsek itu. Ila rela bela-belain berbohong ke orangtuanya, sampai memohon untuk minta bantuan gue cuma untuk candle-light dinner dengan Evan.

Ternyata pertemuan candle-light dinner tadi hanya dijadikan moment Evan memutuskan hubungannya dengan Ila. Benar-benar cowok tidak punya perasaan semua PE-NGOR-BA-NAN Ila hanya dibalas luka oleh Evan. Gue pun geram, rasanya ingin mencekik cowok bajingan itu, segampang itu dia memutuskan hubungan. Apalagi menurut cerita dari Ila, putusnya mereka tidak beralasan. Evan hanya bilang “Lebih baik kita masing-masing dulu. Aku harap keputusan ku ini bisa kamu ngerti. Jujur perasaan cinta aku ke kamu sudah mulai hilang. Dari pada kita terus berpacaran tapi aku gak ada cinta, lebih baik kamu lupakan aku. Kita mulain dengan berteman. Mungkin itu lebih baik, karna aku jatuh cinta sama orang lain. Aku gak  mau itu bikin kamu tambah sakit, jadi dari pada aku selingkuh lebih baik kita udahin hubungan ini. Maaf kita harus putus,  you better move on”. Segampang itu Evan bebicara. Gue sangat kesal dan murka dengan Evan, semudah itu cinta dia untuk Ila hilang dan pergi. Semampu gue untuk menenangkan Ila walau hanya lewat telpon, yang jelas Ila sedikit lega telah membagi bebannya ke gue. sekarang yang dibutuhkan Ila adalah motivasi agar Ila tidak terlarut dalam oleh kesedihanya. “Inget la elo itu cantik, banyak cowok yang tergila-gila dengan elo. Cowok bajingan busuk kayak Evan lupain saja, ngapai sih elo pake nangis-nangis segala. Elo harus buktiin kalau Evan nyesel udah tinggalin elo. Elo juga harus buktiin kalau elo gak kalah cantik sama cewek yang udah buat Evan jatuh cinta lagi.” Gue berusaha membangun jiwa Ila tegar kembali. Rasa penasaran gue mucul, penasaran dengan cewek yang sudah membuat Evan berpaling dari Ila. Secantik apa sih sampai mengalahkan sahabat gue Ila dihati Evan. Kira-kira siapa cewek yang sudah membuat Evan kepincut sampai tega putusin Ila. Lihat saja kalau gue ketemu sama cewek itu bakal gue jambak habis rambutnya, untuk membalas sakit hati sahabat gue ini. Padahal statusnya kan belum sah sebagai pacar atau selingkuhan. Tapi senekat itu Evan memutuskan Ila. Sudah sinting sepertinya Evan, jangan-jangan si cewek itu pakai pelet.

***********SKIP

Sudah hampir seminggu Ila putus dengan Evan. Akhirnya gue bisa mengembangkan senyum manis Ila lagi. Selama itu gue habiskan waktu berdua dengan Ila mulai dari makan di café pinggir jalan, main time zone, nonton, karokean, bahkan sampai hal yang paling gue gak suka yaitu di make up-in. Yasudahlah demi membuat sahabat gue senang gue rela di make over habis oleh Ila. Pokonya setelah Ila lepas dari Evan gue merasa dunia gue dan Ila muncul lagi. Bukannya gue senang atas kesedihan Ila putus dari Evan tapi dengan mereka putus gue dan Ila bisa bersama lagi menikmati persahabatan kami.

“Ila udah dong muka gue mau diapain lagi sih?” celoteh gue uring-uringan. Ila masih sibuk menyapukan kuas bloss on di seputar pipi dan rahang gue. “sabar dong, yakin deh pasti elo kaget ngelihat muka elo sekarang yang cantik gini.” jawabnya riang. Tangan Ila dengan lihainya mempoles hampir keseluruhan wajah gue. Hari ini gue izinkan Ila untuk me-make over gue. Walaupun sebenarnya gue rada keberatan tapi demi buat Ila senang gue turutin kemauan dia, yang penting Ila bisa tersenyum kembali.
“Adul Ila emang gue udeh cantik dari orok kale, tapi cuma orang yang beriman saja yang bisa ngelihat kecantikan gue.” ujar gue dengan bangganya. Ila terkekeh mendengar perkataan gue ia malah bersemangat mempoles wajah gue dengan peralatan make up-nya. “Lian sebenernya elo itu cantik, banget malah lihat deh wajah elo. Cuma elo-nya saja yang gak mau jaga penampilan. Sedikit feminim saja pasti banyak cowok bejibun yang ngantri. Lihat deh hasil dandanan gue cantikkan” Ila menyodorkan kaca ke gue. Dalam kaca terlihat seorang LIAN yang berbeda dan sangat cantik dengan sedikit polesan natural. Gue juga hampir tidak percaya kalau yang dicermin ini adalah gue. tapi tidak mungkin jika gue keluar rumah dengan dandanan seperti ini. Pasti dijadikan bahan tertawaan teman-teman.

Dddrrrrrtttttddddrrrrrrrrtttttddddrrrrtttt
Handphone gue begetar, terlihat satu pesan masuk. Gue membukanya sebuah pesan dari nomor tidak dikenal yang isi pesannya

From : 08963633****
Hai Lian nanti malam jam 7 gue tunggu di Platinum Café, jangan telat yah  ! oyah harus sendiri.

Gue mengerutkan dahi, bingung pesan dari siapa ini. Nomornya tidak dikenal, dipesannya juga tidak dicantumin namanya, bahkan dia to the point nyuruh gue datang ke Platinum Café. Dasar orang aneh, pikir gue.

“Oyah Yan gue balik yah, lupa kalau gue ada janji sama nyokap.” Ila membereskan alat kosmetik miliknya dan besiap-siap pulang. “Terus muka gue gimana nih.” jawab gue menunjuk wajah gue sendiri.
“Udah sih biarin, cantik tau. Pokoknya gak boleh dihapus!” seru Ila mengancam. Gue menghantarkan Ila pulang sampai pagar hingga ia naik taksi. Setelah Ila pulang gue masih penasaran plus bingung dengan nomor yang meng-sms gue tadi.
To : 08963633****
Elo siapa? Kok nyuruh gue datang ke Platinum Café jam 7 malam? Sendirian pula?

Gue membalas SMS itu, beberapa menit muncul jawaban SMS lagi.
From : 08963633****
Sekarang gue blm bisa kash tau siapa gue
Nanti setelah elo datang pasti elo bakal tau kok
Kalo elo gak sendiri gue gak bakal nampakin wujud asli gue.

“Ini orang gak jelas banget sok misterius segala. Bercandanya norak ikh” gue sewot sendiri. Karna penasaran gue telpon nomor tersebut. Tapi tidak diangkat, dan gue sudah mencoba puluhan kali tetap saja tidak diangkat. Mau apa sih sebenarnya dia. Maksud dan tujuannya tidak jelas. Apa lagi permintaannya aneh dia minta gue datang sendirian. Jangan-jangan di dedemit, setan, hantu, atau sejenisnya. Bikin bulu kuduk gue berdiri saja.

To : 08963633****
Elo itu siapa sih? Jangan sok misterius segala deh.
Emang ada perlu apa nyuruh gue datang ke  Platinum Café jam 7 malam?
Dan kenapa hrs sendiri?

From : 08963633****
Kan sudh gue bilang , gue gak bisa kasih tau sekarang gue ini sipa.
Penting elo harus datang! Pokoknya harus SENDIRI.

Sudah hmpir sejam gue SMSan dengan nomor misterius ini, dan sudah dengan cara halus bahkan kasar dia tidak memberi tau siapa dia. Keinginanya hanya bertemu gue di Platinum Café jam 7 malam. Sungguh aneh, gue diajak ketemu dengan sosok yang gue sendiripun tidak tahu wujudnya. Tidak mungkin yang SMS ini hantu, mana ada hantu bisa SMSan. Tapi siapa ini? Apa mungkin aku dijahilin, tapi apa tujuannya?
Yasudahlah gue putuskan untuk setuju menemui orak misterius ini nanti jam 7 malam.

Jam sudah menunjukkan pukul 18:45, lima belas menit lagi tepat pukul 19:00. itu tandanya gue harus segera ke Platinum Café. Ada perasaan bimbang untuk menemuinya. Gue mondar-mandir dikamar seperti orang linglung, masih bingung antara pergi atau tidak. Kalau gue pergi, gue seperti orang bodoh yang mau saja mengikuti kemauan orang aneh ini yang jelas-jelas gue tidak tahu siapa dia. Tapi kalau gue tidak datang, gue penasaran sama dia dan tujuan dia seperti ini. Apa mungkin gue harus mengajak Ila, tapi ini masalah gue. toh orang aneh itu hanya mau bertemu gue sendiri. Setelah hampir lama berfikir akhirnya gue memutuskan untuk pergi ke Platinum Café. Gue mengganti baju dengan memakai kemeja trendy warna ungu dan celana jeans abu-abu. Masih ada waktu sepuluh menit untuk sampai kesana. Gue segera besiap-siap dan meluncur ke Platinum Café.

************SKIP

Sampai di Platinum Café gue mengambil tempat di tengah yang lumayan ramai oleh pengunjung. Alasannya suapaya kalau nanti orang misterius tersebut mau berbuat kejahatan, gue gak pelu takut. Langsung saja gue meng-SMS ke nomor misterius tersebut. Beberapa menit kemudian muncul sesosok laki-laki yang sangat gue kenal bahkan sangat gue benci. Tidak lain dan tidak bukan dia adalah EVAN. Setengah kaget gue melihat Evan berdiri dihadapan gue.
“Elo elo ngapain disini?” tanya gue heran. Evan langsung ambil posisi duduk dipersis hadpan gue.
“Gue yang SMS elo untuk ketemuan disini.” jawabnya santai.
“Maksudnya elo pemilik nomor misterius itu?” sontak gue kaget. “Mau apa elo nyuruh gue datang kesini?” emosi gue sudah tidak terkontrol. Gue beranjak dari kursi.
“Tunggu dulu ada hal penting yang harus gue omongin sama elo berdua.” Evan menenagkan gue untuk kembali duduk dikursi gue tadi.
“Apaa yang pengen elo omongin hah? Gak puas apa elo nyakitin hati sahabat gue Ila? Kalau elo mau minta maaf langsung sana sama orangnya. Elo kenapa tega banget putusin Ila. Elo gak tau seberapa cinta Ila ke elo. Elo seharusnya nyesel sudah sia-sia’in cintanya Ila. Elo cowok bego, gak punya perasaan, bajingan dan elo cowok paling busuk yang pernah gue kenal!” Suara gue meninggi malah seperti orang membentak. Sepertinya pengunjung café disekitar kami sedang memperhatikan. Namun gue tidak peduli yang penting bisa meluapkan emosi ini.
“Lian, oke gue minta maaf. Tapi gue putusnya hubungan gue sama Ila itu karna gue gak mau nyakitin dia. Gue gak mungkin berpura-pura cinta padahal gue sudah gak cinta. Itu malah lebih nyakitin kan? Dan elo pasti sudah tau kenapa gue putus?” Evan masih merendahkan suaranya atau berkesan datar. Ia tidak kepancing emosi dengan kata-kata kasar dari gue.
“Tapi caranya jangan seperti itu, elo gak tau seberapa hancurnya Ila. Elo putusin Ila karna elo jatuh cinta sama cewek lain kan? Kurang apasih Ila dimata elo?” kini gue menurunkan nada suara gue. walaupun sudah tidak setinggi tadi namun masih ada luapan emosi gue.
“Iya karna gue jatuh cinta lagi, dan gue bingung kenapa gue bisa cinta sama orang itu.” balas Evan dengan santainya bahkan ia masih bisa tersenyum. Ingin sekali gue mencekiknya, bukannya menyesal tapi ia seperti tidak ada beban. Memang dasar cowok tidak punya hati.
“Apa? elo segampang itu ngomong gitu? Elo itu punya perasaan gak sih? Apa jangan-jangan elo gak punya hati?”
“Kalau gue gak punya hati, gak mungkin gue bisa merasakan cinta yang hebat sepeti ini, sampai gue tinggalin Ila.”
“Elo itu sudah gila apa sinting sih? Apa jangan-jangan elo sudah diguna-guna atau dipelet sama cewek itu.”
Evan hanya tertawa mendengar ucapan gue. memangnya ada yang lucu dengan ucapan gue tadi. Evan sudah stress sepertinya.
“Elo mau tau siapa cewek itu?”
“Iya siapa? Biar gue tau seberapa cantiknya dia sampai elo berpaling dari Ila.”
“Cewek itu beda dari yang lain, dan perbedaannya itu yanga membuat dia lebih istimewah.”
“Sudah sih gak usah bertele-tele, intinya siapa? Apa gue kenal sama dia?
Evan tertawa lagi
“Bukan cuma kenal kok.”
“Maksudnya?”
Evan melipat tangannya didadanya dan matanya sejurus menatap gue. “Cewek itu adalah Liany Oktavia.”
Bulu kuduk gue berdiri mendengar nama gue disebut Evan, dan itu memberi arti kalau cewek yang telah membuat Evan lepas dari pelukan Ila itu adalah gue. Batin gue rasanya terkoyak, tidak gue duga ternyata gue lah penyebab hancurnya hubungan sahabat gue.
“Kamu tau kenapa aku nyuruh kamu kesini, karena aku hanya mau bilang aku cinta kamu.” Kini Evan ber’aku-kamu dengan gue membuat gue sedikit salah tingkah ditambah kalimat Evan memperjelas maksudnya lagi. Dada gue serasa menyempit dan sesak untuk bernafas. Kalimat Evan tidak gue balas, karna tak sanggup bibir gue bersuara. Gue mencubit tangan gue sendiri dan ternyata sakit. Padahal gue berharap ini semua hanya mimpi. “Kamu tau kan sewaktu kita jambore tempo hari lalu, saat gue bilang elo itu beda dari yang lain .  Nah perbedaan itu yang membuat elo lebih. Saat itu juga aku ngerasain jatuh cinta sama kamu.” Pandangan kami beradu dan kepala gue dipenuhi kata-kata yang susah untuk gue sampaikan.
“Elo itu gila apa saraf, elo tau kan gue sama Ila itu sahabatan. Maksud elo apa putusin Ila sepihak dan sekarang elo ada dihadapan gue bilang cinta sama gue? elo pikir gue bakal senang dengan proklamasi perasaan elo? Apa elo cuma jadiin gue dan Ila mainan elo karna kepopuleran elo si sekolah?” Evan diam. Suara gue berubah menjadi parau. Air mata mengendap dimata dan sekuatnya gue menahan agar tidak jatuh. Sial kenapa gue harus menitikkan air mata. Aarrggghh bagaimana pun gue ini cewek yang bisa merasakan sakit bahkan menangis. Gue hirup udara banyak-banyak untuk meredakan emosi dan menahan tumpahnya air mata sialan ini. Dan Evan masih diam.
“Elo kalau mau bertindak harus pakai logika. Enggak mungkin elo gampangnya jatuh cinta sama gue dan tinggalin Ila. Harus elo tau gue dan Ila bukan kelinci percobaan cinta elo? Oiya gue tau karna elo merasa tampan, kaya, populer sehingga elo bisa gonta-ganti cewe sesuka hati elo? Apa ini cara permainan elo untuk mencari sensasi suapaya pamor elo lebih tenar dengan menghancurkan persahabatan gue dan Ila?” Marah dan marah itu yang gue lakukan dari pada gue harus menangis di depan Evan.
“Lian!” sentak Evan.
“Apa? elo gak terima dengan ucapan gue tadi?” Kini suara gue lebih terkesan lirih. Seperti menahan sesuatu yang mengganjal dihati. Sakit, itu yang gue rasa namun ada sesuatu rasa yang tidak bisa gue jelaskan.
“Gue tau gue salah, tapi apa gue salah kalau gue mencoba jujur dengan perasaan gue ini? Gue sudah memikirkan ini matang-matang. Dan kenapa elo berfikiran buruk tentang gue. Ingat gue gak ada maksud untuk mempermainkan Ila dan juga elo. Persetan dengan ketampanan, kekayaan, kepopuleran. Itu gak memberi arti buat gue!” Nada bicara Evan meninggi mampu mengheningkan suasana café yang tadi cukup ramai.  Suara Evan membuat aku membeku. Wajahnya kini merah padam menatap gue.
“Gak tau darimana perasaan itu tumbuh, dan gue anggap itu wajar. Sifat, sikap, dan warna elo yang unik itu yang buat gue penasaran dan ingin tau lebih jauh. Gue pikir itu cuma perasaan kagum atau sesaat. Tapi beda itu buat gue semakin gak bisa lupain elo. Asal elo tau saat gue bersama Ila yang ada difikiran gue itu elo bukan Ila. Dan gue tau secara tidak langsung gue sudah mengkhianati Ila. Makanya gue memutuskan hubungan gue supaya gue gak lebih parah nyakitin Ila. Gue masih punya perasaan Lian. Gue bukan cowok setega itu, gak pernah ada difikiran gue untuk jadikan elo, Ila, dan semua cewek itu boneka mainan gue. Perasaan gue ke elo itu mucul dan ngalir gitu aja. Gue sudah coba nahan diri. Demi Tuhan perasaan itu malah kuat dan nyiksa gue.”
Gue terpanah mendengar curahan hati Evan tanpa sadar air mata gue biarkan jatuh. Baru kali ini gue menangis didepan cowok. Walaupun style dan gaya gue yang tomboy, tapi bagaimana pun kodrat gue perempuan yang perasaannya sensitif. Apalagi mendengar seorang cowok mencurahkan perasaannya ke gue. Gimana tidak membuat gue termehek-mehek. Ternyata dibalik sisi maskulin gue, gue itu seorang cewek cengeng.
“Tapi ini gak bisa Van, gimana perasaan Ila kalau dia tau ternyata  gu…gue penyebab semuanya. Gue sahabatnya, persahabatan gue dan dia bukan hanya 1 atau 2 tahun tapi sudah gue jalanin dari SD, dan gue jadi orang kepercayaannya. Pasti Ila bakal benci sama gue dan seumur hidup dia gak bakal maafin gue. Ila benar-benar cinta sama elo Van, bahkan dia rela bohongin keluarganya buat ketemu elo. Tapi apa? pengorbanannya malah sia-sia dimalam itu elo putusin dia demi cewek lain. Sekarang  gimana reaksi dia saat tau kalau cewek itu adalah gue, sahabat kecilnya.” Gue memperpelan nada suara, sebisa mungkin mengontrol air mata ini supaya tidak terlalu rembas keluar. Gimana pun gue harus menjaga image didepan Evan. Gue tidak mau terlihat lemah didepan dia, karna itu bukan ciri gue. beberapa menit gue tersadar kalau sedari tadi ada beberapa pasang mata yang memperhatikan gue dan Evan. Sekejap gue menoleh ke Evan yang sedang duduk anteng didepan gue. Matanya tertunduk lesu, mungkin dia menyadari kebodohanya. Kini gue lihat arloji ditangan kiri yang menunjukkan pukul 20:50. Sudah hampir 2 jam gue duduk disini bersama Evan, dan ini tidak bisa gue perlama lagi. Segera gue bangkit dari kursi dan merapihkan tas gue. Secepat kilat Evan meraih tanggan gue melarang gue meninggalkannya. Gue terdiam sejenak lalu “Sorry Van gue gak bisa berlama-lama lagi. Gue gak maua menyakiti sahabat baik gue. Walaupun gue punya perasaan sama seperti elo. Gu..gue harus pergi sekarang.” Setelah kata terakhir, gue menghempaskan tanggannya dan belari keluar café. Tapi Evan tidak hanya diam, ia juga mengejar gue sampai gue masuk kedalam taksi. Di dalam taksi gue menoleh kebelakang terlihat Evan sibuk mencari-cari gue. mungkin aksi gue tadi menjadi tontonan gratis pengunjung café. Terdengar suara handphone gue berdering ternyata dari Evan.  Gue gak berani untuk mengangkatnya. Air mata gue kini membasahi wajah sudah tidak terfikir malu lagi dengan supir taksi, yang penting gue lega. Gue pun memutuskan untuk berhenti disebuah taman tidak jauh dari kompleks rumah. Disinilah gue lepaskan semua bendungan air mata yang tertahankan. Gue menangis sepuasnya. “Jujur gue bahagia saat Evan bilang kalau dia cinta sama gue. Karena gue juga merasakan hal yang sama .Tapi itu mustahil karena Evan adalah cinta matinya sahabat gue. Gue gak mungkin mengkhianati Ila sahabat gue. Kenapa ini semua terjadi sama gue? Kenapa gue ada diantara mereka? Kenapa harus persahabatan ini yang jadi korban? Kenapa gue harus jatuh cinta disaat yang tidak tepat? KENAPA HARUS GUE???

                                                                             ~END~

Author:
Maaf seribu maaf atas keterlambatan kesibukan sekolah dan tugas-tugas yang numpuk membuat cerita ini lambat diselesaikan. Sebenarnya ide-nya sudah selesai dari kapan tau tapi baru sempat ditulis dan diselesaikan malam ini. Ditambah si komputer yang membandel kadang hidup dan kadang erorr. Inginnya sih punya notebook jadi nulis ceritanya bisa disekolah, atau bebas, dan gak cepet pegel pula. Part awal sudah pernah diposting tapi sekarang ada perombaklan lagi *loh jadi curhat hihihi….

By the way yang sudah sempatin baca THANK YOU THANK YOU VERY MUCH.. maaf yah kalau ada kesalahan huruf, tanda baca, atau kata-kata. Maaf juga kalau feell-nya gak dapat. Soalnya sebenarnya pengen jadi cerita santai. Eh gak tau kenapa malah jadi galau, maklum cewek *hihihihi
Semoga terhibur dengan sebuah cerita sederhana ini. Jangan lupa LIKE + KOMENTAR-nya ditunggu untuk pembelajaran. Dan DILARANG MEMBAJAK CERITA INI NO COPY NO PASTE NO EDIT. Dosa ditanggung sendiri. Terima kasih :) 

~Olive 100512, 10:15PM

Tidak ada komentar:

Olivia Resty Amallia. Diberdayakan oleh Blogger.